Rabu, 18 Februari 2009

Tentang Perayaan Ulang Tahun

Oleh: Arif Bama

Tepat tanggal ini 28 tahun lalu saya dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah mempunyai 9 anak. Bisa dibilang hari ini adalah hari ulang tahun saya yang ke 28. Sedangkan istri saya "baru" beberapa hari yang lalu berulang tahun yang ke 26.

Saya dan istri saya menikah pada tahun 2006, bulan Juli. Berarti kami sudah menjalani 3 kali ulang tahun kelahiran, saya untuk ke 26, 27, dan sekarang 28, sedangkan istri saya untuk ke 24, 25, dan sekarang 26. Untuk ulang tahun pernikahan kita sudah melewati 2 kali yaitu 2007 dan 2008. Demikian juga anak kami Hasannashr Hizballah Amma, lahir pada bulan Juli 2007, berarti sekarang sudah melewati sekali ulang tahun yaitu di tahun 2008.

Jika dihitung dengan kalkulator 3 + 3 + 2 + 1 akan muncul angka 9 yang berarti sudah ada 9 kali perayaan ulang tahun di keluarga saya. Tapi "alhamdulillah" tidak terjadi sama sekali, mungkin hanya sekali di ulang tahun Hizballah tapi itupun bukan kami yang merayakan akan tetapi atas permintaan Eyang Kung dan Eyang Putrinya.

"Tidak ada biaya" mungkin itu salah satu alasan, akan tetapi alasan kami yang paling mendasar adalah sebagai berikut:

1. Pendapat Ulama Salaf

Hukum merayakan ulang tahun dalam Islam
Penulis: Syaikh Muhammad As-Saalih Al-'Utsaimin
Fatwa-Fatwa, 16 Januari 2004, 04:17:32

Merayakan Hari Lahir dan Ulang Tahun

Tanya : Bagaimana hukum yang berkaitan dengan perayaan hari ulang tahun perkawinan dan hari lahir anak-anak ?

Jawaban : Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa - atau sering disebut hari ' Ied Arafah - untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam) dan merupakan bid’ah yang sesat. (Syaikh Muhammad Salih Al ' Utsaimin)

Sumber :
Al-Bid'u wal-Muhdatsaat wa maa laa Asla Lahu- Halaman 224; Fataawa fadhilatusy-Syaikh Muhammad As-Saalih Al-'Utsaimin- Jilid 2, Halaman 302.

2. Pendapat yang lain

Hukum Merayakan Ultah

Masalah: Bagaimanakah hukumnya mengadakan perayaan ulang tahun? Apakah termasuk bid’ah?

Solusi: hukumnya mubah, bukan bid’ah bahkan menurut ibnu hajar memberi ucapan selamat atas berbagai nikmat (termasuk ulang tahun) adalah disyariatkan. Suatu ketika Tholhah bin Ubaidillah disisi Rasul mengucapkan “selamat” kepada ka’b bin malik atas diterimanya taubatnya karena tidak ikut perang tabuk.

Dasar Hukum :

قال القمولى لم أر لأحد من اصحابنا كلاما فى التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقل الحافظ المنذرى أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذى أراه أنه مباح لاسنة فيه ولابدعة وأجاب الشهاب ابن حجر بعد اطلاعه على ذلك بأنها مشروعة واحتجّ له بأن البيهقى عقد لذلك بابا ...اهـ (الإقناع ج 1 ص 162)

3. Pendapat ini saya dapat setelah konsultasi ke salah satu Ustadz di Surabaya

Bahwa perayaan hari ulang tahun tidak ada dalam Islam, akan tetapi masih ada pertimbangan bahwa beliau tidak menyarankan dan bahkan menolak tentang perayaan Ulang Tahun seperti misalnya Pesta kue atau mungkin traktir mentraktir. Ulang Tahun harusnya menjadi instrospeksi diri tentang amalan-amalan kita dalam rentang waktu yang telah kita lewati, dan supaya ke depan lebih baik lagi. Beliau tidak memberikan hukum haram atau mubah, akan tetapi menitikberatkan pada pola pemanfaatannya dalam memaknai Ulang Tahun.

Para Ulama Salaf menfatwakan haram oleh karena para ulama salaf memang terkenal paling jauh dari hal-hal yang syubhat. Mereka berusaha untuk tidak masuk ke dalam "grey area" hukum Islam karena itu akan mengakibatkan distorsi dan pengaburan hukum Islam. "Sesungguhnya terdapat pemisah yang jelas antara yang haq dan yang bathil", toleransi yang terus menerus akan menyebabkan degradasi nilai-nilai yang sebenarnya. Dasar perayaan ulang tahun adalah budaya kaum non muslim di mana Nabi Muhammad Saw jelas-jelas menegaskan agar Kaum Muslimin tidak meniru budaya mereka. Ini adalah pijakan yang cukup kuat untuk para ulama salaf dan kita semua tentunya.

Sedangkan sebagian ulama yang lain lebih melihat bahwa perayaan Ulang Tahun adalah bukan bentuk ibadah sehingga jika tidak ada larangan tentu tidak haram, tetapi akan berubah "menjadi haram" disaat bentuk kegiatannya menyimpang dari Hukum Islam atau makna ulang tahun itu sendiri.

Dari pendapat-pendapat tersebut tentunya kita bisa mengambil hikmah yang terbaik untuk kita, jangan sampai kita masuk golongan orang-orang yang merugi di yaumul hisab nantinya.

Semoga bermanfaat

Wassalamu'alaikum wr wb

Senin, 16 Februari 2009

Jawaban Sederhana Penuh Makna

Berikut sebuah tulisan yang menurut saya cukup menginspirasi kita untuk tetap berprasangka baik terhadap kehidupan dan juga terhadap Allah 'Azza wajalla.

Ditulis oleh Dede Farhan Aulawi dan diposting di milis Donatur YDSF oleh Nazzala Fanni


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik - rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat.

Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ? "Mauuuuuuuuu. ..", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ... Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. "Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?"

"Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak Orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. .?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup
sehari - hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Iya menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".

Sahabat....
Cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin

Rabu, 04 Februari 2009

Harapan Baru dari Turki untuk Islam

dikutip dari eramuslim.com

Walau berada di tengah masyarakat dan negara Turki yang sekuler, Erdogan dan partainya tetap ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam yang mulai redup di negara yang pernah berdiri Kekhalifahan Islam terakhir ini.

Beliau bernama Rajab Thayib Erdogan, atau dalam bahasa Turki disapa sebagai Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan lahir di Istanbul pada tanggal 26 Februari 1954. Tapi, ia dibesarkan di tanah kelahiran ayahnya di Rize, daerah pesisir Laut Hitam di Georgia. Pada usia 13 tahun, Erdogan kembali ke Istanbul. Ayah Erdogan, selain sebagai penjaga pantai di Angkatan Laut, juga seorang politikus muslim.

Pada tanggal 4 Juli 1978, Erdogan menikah dengan seorang muslimah bernama Ermine Gulbaran. Sang isteri lahir pada tahun 1955 di Siirt. Dari pernikahan ini, Erdogan menjadi seorang ayah dari empat anak: Ahmad Burak, Najmuddin Bilal, Sumayyah, dan Isra.

Setelah tamat di sekolah dasar dan menengah Islam, Erdogan melanjutkan kuliah di Universitas Marmara, fakultas ekonomi dan bisnis. Selain mengikuti pendidikan, pada usia 16 tahun, Erdogan muda ikut tergabung dalam tim sepak bola semi profesional. Selain itu, ia juga bekerja di perusahaan angkutan kota Istanbul.

Pada tahun 1980, Erdogan meninggalkan sepak bola dan bekerja di sektor swasta. Dua tahun kemudian, Erdogan terkena wajib militer dan sempat menjadi perwira dengan tugas khusus.

Ada peristiwa miris di tahun 80. Saat itu, terjadi kudeta militer di Turki yang akhirnya mengeluarkan kebijakan pelarangan semua partai politik. Tiga tahun kemudian, akhirnya kebijakan tersebut mengalami pemulihan dengan membolehkan kembali partai-partai politik.

Sebelum pelarangan partai, Erdogan sudah bergabung dengan Partai Keselamatan Nasional yang Islamis pimpinan Najmuddin Arbikan yang dibubarkan militer. Ketika partai sudah diperbolehkan lagi di Turki, para mantan pengurus partai pimpinan Arbikan atau Erbakan mendirikan partai baru yang bernama partai Refah atau Partai Kesejahteraan. Dua tahun kemudian, atau tahun 1985, Erdogan menjadi ketua partai tersebut untuk Provinsi Istanbul.

Pada pemilu 1991, Partai Kesejahteraan melampaui ambang 10 persen yang menjadi syarat memperoleh kursi di Dewan Nasional Agung. Dan saat itu, Erdogan terpilih menjadi anggota dewan mewakili provinsi Istanbul. Sayangnya, Komisi Pemilihan Pusat mencabut posisi Erdogan karena dianggap telah menyalahi sistem pemilu yang berlaku.

Tiga tahun kemudian, pada pemilu lokal yang diselenggarakan pada 27 Maret 1994, Partai Kesejahteraan memperoleh suara terbanyak untuk pertama kalinya di wilayah Istanbul. Dari kemenangan itu, Erdogan resmi menjadi wali kota Istanbul Raya serta Presiden dari Dewan Metropolitan Istanbul Raya.

Kepiawaian Erdogan dalam memimpin Istanbul menjadi bukti bahwa ia memang sanggup dan layak menjadi pemimpin umat. Ia berhasil membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pengadaan air bersih, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.

Dalam aspek moral, Erdogan pun tidak mau tinggal diam. Erdogan melarang segala praktik prostitusi dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada para wanita muda. Ia juga melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol walikota.

Selain soal pelacuran dan minuman keras, kasus korupsi juga tidak luput dari pembenahan yang dilakukan Erdogan. Sebelumnya, anggaran belanja Istanbul selalu minus. Dengan pembenahan yang dilakukan Erdogan, anggaran belanja menjadi plus, suatu hal yang belum pernah terjadi di pemerintahan daerah Istanbul. Ini semakin meningkatkan citra partai Rafah (kesejahteraan) di mata masyarakat.

Keistiqamahan Erdogan membuat para sekuleris di Turki gelisah. Dan saat itu, Erdogan memang menyatakan perjuangan demi Islamnya secara terang-terangan. Padahal, Turki memang masih menganut ideologi sekuler semacam orde baru di Indonesia pada zaman Suharto.

Pernyataan Erdogan yang mengejutkan kaum sekuleris adalah, “Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya." Kontan saja, para kaum sekuler memberikan peringatan kepada lembaga tinggi negara tentang ancaman yang bisa merongrong wibawa ideologi sekuler di Turki. "Kita harus melawan Erdogan. Karena ini ancaman serius untuk ideologi kita yang sudah dibangun oleh pendiri negara ini!"

Tahun 1998, Erdogan akhirnya dipenjara. Pengadilan memutuskan penjara 9 bulan untuk Erdogan. Beliau dianggap menghianati asas Sekularisme negara. Dalam waktu yang sama, justru Erdogan mendapat simpati dari rakyat banyak karena karakternya yang berani menegakkan kebenaran. Selama ini, masyarakat Turki memang sudah muak dengan moto ideologi sekuler yang hanya menjadi kedok kebobrokan para rezim di Turki yang korup.

Dalam suatu jajak pendapat, Erdogan justru terpilih sebagai walikota terfavorit dari 200 walikota di Turki. Erdogan tidak kehilangan semangat dengan penangkapannya ini. Beliau justru mengubah sebuah puisi karangan Ziya Gokalp, yang menambah semangat para pendukungnya, yang sebagian besar adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Turki.

Berikut puisinya (terjemah kasar) : Bahasa Turki :

Minareler süngü, kubbeler miğfer Camiler kışlamız, mü’minler asker Bu iláhi ordu dinimi bekler Allahu Ekber, Allahu Ekber.

Bahasa Indonesia :

Masjid adalah barak kami, Kubah adalah helm kami, Menara adalah bayonet kami, Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini menjaga agama kami. Perjalanan suci kami adalah takdir kami, Akhir perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Setelah Partai Rafah dibubarkan oleh dewan nasional karena dianggap bertentangan dengan idelogi negara sekuler Turki, pada Agustus 2001, Erdogan mendeklarasikan partai baru yang bernama Partai Keadilan Pembangunan (AKP: Adalet ve Kalkinma Partisi, yang artinya putih, bersih, dan murni). Meski tidak secara tegas mencantumkan azas Islam karena hal itu memang dilarang, orang-orang AKP sudah dikenal masyarakat Turki sebagai penerus perjuangan Erbakan.

Meski baru berusia 12 bulan, pada pemilu 3 November 2002, AKP secara fantastis meraih 34,1 persen suara. Perolehan ini menjadikan AKP sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan partai-partai nasionalis dan sekuler.

Karena masih berstatus terpidana, Erdogan tidak boleh menjabat sebagai perdana menteri. Dan jabatan itu dipegang oleh wakil ketua AKP, Abdullah Gul. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret 2003, setelah kasus tuduhan terhadap Erdogan dianggap selesai dan disetujui parlemen, Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri menggantikan Abdullah Gul.

Salah satu kebijakan Erdogan yang dianggap mengkhianati ideologi sekuler Turki adalah pencabutan larangan memakai jilbab. Padahal, sejak pendirian negara Turki sekuler oleh Mustafa Kemal Ataturk, jilbab sudah tidak lagi diperbolehkan berada dalam dinamika pemerintahan dan masyarakat Turki.

Karena pelarangan jilbab itulah, Erdogan terpaksa menyekolahkan anak-anak gadisnya ke Amerika dan Eropa yang memang membolehkan siswi berjilbab. Hal ini karena demi menjaga jilbab agar tidak lepas dari busana anak-anak wanitanya.

Fenomena inilah yang diperjuangkan Erdogan di Turki. Menurutnya kepada publik Turki, bagaimana mungkin Eropa dan Amerika yang jauh lebih sekuler dari Turki masih membolehkan siswi untuk mengenakan jilbab. Sementara Turki malah melarang. Erdogan pun akhirnya mengangkat logika ini untuk menyerang para anti Islam yang berlindung di balik topeng ideologi sekuler.

Akhirnya, pada pemilu 2007, partai yang dipimpin Erdogan mendapatkan suara yang sangat luar biasa, 46, 7 persen. Suatu perolehan yang belum pernah terjadi di pemilu Turki secara demokratis. Angka ini menjadikan AKP memperoleh 340 kursi dari 550 kursi parlemen.

Dalam kemenangan itulah, Erdogan dan partainya mengajukan proposal RUU Paket Demokrasi. Yang di antaranya, undang-undang yang membolehkan jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah.

Keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina, Erdogan secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melakukan lobi untuk mendukung perjuangan Palestina. Terakhir dalam diskusi internasional 'World Economic Forum' di Davos, Swiss, yang dihadiri Presiden Israel Shimon Peres, Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Amir Moussa, Erdogan duduk disamping Presiden Israel Shimon Peres menyatakan bahwa, “Israel adalah negara yang lebih daripada sekedar barbar” Beliau menatap tajam mata Presiden Israel Shimon Peres yang seolah cuek saja dengan Erdogan. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum.

Walau masih tidak terang-terangan menyatakan menegakkan syariat Islam di Turki, Erdogan dan partainya sudah berhasil meyakinkan masyarakat Turki yang sudah sekian puluh tahun terkungkung dalam topeng sukuler Turki kepada pembangunan nilai-nilai Islam yang universal.

Dari berbagai sumber. (mnh)

Jumat, 16 Januari 2009

Ngapain Juga Kita Mikirin Palestina?


Tulisan seorang mahasiswa berprestasi tingkat nasional tahun 2007, Shofwan Al-Banna Choiruzzad

(judul nya pas buat orang2 ngga punya hati!!! )

Surabaya ,1945

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: "menyerah, atau hancur".

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

"Saudara-saudara rakyat Surabaya .
Bersiaplah! Keadaan ge
nting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!"

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza , peralihan tahun 2008-2009

Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia (per 15 Jan ini sudah mencapai 1250 orang! -fayza) dan ribuan luka-luka.

Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

***

Hati saya sakit saat ada yang berkata:
"Ngapain kita ngurusin Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia " adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang men
gatakan "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!" Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel , menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata?

Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict.

Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew.org

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel.

Tidak ada yang men
yebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel .

Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh.

Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

"Itukan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini. Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini dadaku, mana dadamu!"

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948.

"Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine ).

Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913).

Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya.

Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris. Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel.

Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaanm Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.

Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina. Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.

"If you stand for nothing, you will fall for anything"

Jumat, 09 Januari 2009

Akar Konflik Palestina Israel

Oleh: Abi Waskito
dikutip dari www.swaramuslim.com

Pengantar: Sebagai hadiah menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1 Muharram 1430 H. Sebagai bentuk rasa solidaritas kepada saudara-saudara seiman di Gaza Palestina. Sebagai ungkap rasa cinta kepada sesama Muslim, dimanapun mereka berada.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel berdiri tahun 1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk keras serangan Israel ke Gaza, tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan serangan.

Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi, konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan Fir’aun, bahkan konflik antara Yusuf ‘alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta’ala dengan iblis laknatullah ‘alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri adalah bangsa “terkuat di dunia”, dalam arti: merekalah satu-satunya ras manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah Ta’ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi
Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan menemukan bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. Jika tidak demikian, maka kita hanya akan “konsumen terbaik” berita-berita media massa seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai sejak era Perang Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an, tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll. sampai serangan Israel saat ini. Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para pelakunya saja.

Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim ‘alaihissalam. Ibrahim memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq ‘alaihimassalam. Ismail nanti menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya’qub ‘alaihissalam. Nah, Ya’qub inilah yang kemudian disebut Israil, sehingga anak-anak Ya’qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada anak-anak Ya’qub. Mereka adalah Yusuf ‘alaihissalam, Benyamin, dan 11 saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari, bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf sedang bersujud kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan “angka keramat” bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.

[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf ‘alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya’qub, seluruh anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf ‘alaihissalam bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah Kan’an. Disana Ya’qub dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan. Mereka memilih tinggal di Kan’an sebab dekat dengan Mesir yang makmur, sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan Ya’qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya’qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya’qub dan Yusuf, nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir. Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada Yusuf, kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa. Oleh karena itu Allah Ta’ala mendatangkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan Fir’aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Fir’aun. Dalam Al Qur’an: Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.” (Al A’raaf: 104-105). Musa tidak pernah diperintahkan untuk memerangi Fir’aun, tetapi membawa Bani Israil tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir’aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah bukanlah Fir’aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut janggutnya oleh Musa. Fir’aun dalam Al Qur’an lebih mencerminkan tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas (Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al Maa’idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era Ya’qub dan Yusuf di wilayah Kan’aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak henti-hentinya menguji kesabaran Musa ‘alaihissalam. Betapa banyak kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri, Musa dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu; mereka mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; mereka hendak membunuh Harun ‘alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena terlalu banyak bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta bawang, menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa, sehingga Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar.” (HR. Bukhari-Muslim). Sangat mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa ‘alaihissalam. Di dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global seperti saat ini. Orang-orang Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan kristalisasi dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi lainnya ‘alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di hadapan Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur’an disebutkan sebuah ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi Dawud ‘alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh karena itu bangsa Barat mengenal kisah “David and Goliath”). Beliau ikut dalam pasukan Bani Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel ‘alaihissalam. Al Qur’an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.

[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta terpendam “King Solomon”. Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di balik permukaan bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani Israil semakin merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari Kerajaan Babilonia (maaf, kemarin tertulis Byzantium. Kesalahan sudah diperbaiki, -pen). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa’ ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak benua India, dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan di Eropa, mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar memusuhi Isa ‘alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih ‘alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang akan datang setelah Musa dan Isa ‘alaihimassalam. Mereka ingin “memaksakan” agar Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab dari sisi Allah (Al Qur’an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datang (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. Maka laknat Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi).” (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail ‘alaihissalam. Itu pun turun di Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa ‘alaihissalam ini. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus, sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur’an dijelaskan sangat banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah. Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa ‘alaihissalam diturunkan. Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: “Tidaklah aku diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil.” Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil (bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil. Isa dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu Benyamin Franklin mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi seperti bangsa “vampire” yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini adalah akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah, yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi berusaha “bersikap sopan”. Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk oleh Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani, Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia, seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:
  • (a)Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan sifat furqan akidah Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang terkutuk.
  • (b) Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam. Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois sesuai etnik dan wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, mustahil “Kerajaan Yahudi” dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. Kalau Anda saksikan bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing saling konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia Freemasonry. (Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.
  • (c) Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam. Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-peluang kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara terbanyak, sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.
  • (d) Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar ambisi-ambisinya.
  • (e) Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa, membuat satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia, memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme). Inilah kenyataan yang kemudian disebut sebagai: “Yahudi menggenggam dunia!” Bahkan negara sekuat Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam. Yahudi sangat membutuhkan “Kerajaan Bani Israil” untuk mengalahkan orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, dalam arti mereka percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka hendak mendirikan “Kerajaan Bani Israil” dengan kekuatan tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil, tahun 1948 lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin sebagai orang kafir. Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia. Mengapa dipilih tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan yang sangat cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Namun resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari negara-negara tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena memang “Kerajaan Bani Israil” merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari, siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki, dll. banyak orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Bahrain, dll. banyak dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi (ajaran Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa ‘alaihimussalam). Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap etnis mereka sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah, marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis “kitab suci” tandingan bagi Taurat (Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris “darah biru” Nabi-nabi, merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat Allah Ta’ala: “Ana khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min thiin” (aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh, logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban
Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk “Kerajaan Bani Israil” seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya membangun negara seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah sudut dunia. Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel. Negara seperti Bosnia, Chechnya, Kamboja, Myanmar, Timor Leste, dan lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan “Kerajaan Bani Israil” di Palestina, mengapa mereka harus juga menghancurkan peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya? Hingga ke anak-anak balita pun, banyak “diracuni” oleh kartun-kartun Walt Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai khabar Al Qur’an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur’an, tetapi anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al Qur’an. Yahudi sangat mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa’ berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Surat Al Israa’: 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai. Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang ini, ketika “Yahudi menggenggam dunia”. Dan nanti di puncak kezhalimannya, Israel akan dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan. Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani “jadwal sejarah” sebagaimana disebutkan Al Qur’an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan saat ini. Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6 juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia. Yahudi tidak merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel, bahkan tidak cukup dengan menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah Ta’ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan mereka: “Tangan Allah terbelenggu.” Kemudian mereka dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu. (Al Maa’idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu fakir dan kami kaya raya.” (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur’an, tetapi sekaligus menentang eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani Allah, tetapi mendurhakai-Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi mengangkat simbol “Messiah”, yang pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah. Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi orang-orang beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka. Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku tertentu. Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan watak durjana luar biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu “telah disiapkan” untuk menjadi cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, mengapa A Qur’an banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur’an (khususnya Surat Al Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhillah, 4 Muharram 1430 H.

Surat Terbuka Untuk Pemimpin Hamas

dikutip dari www.swaramuslim.com

Ummat sudah terlalu lama dikecewakan oleh para pemimpin yang mengekor kepada kaum kuffar, termasuk dalam retorikanya. Maka penuhilah harapan kami. Anda termasuk para pemimpin langka di zaman penuh fitnah ini.

Surat Terbuka Untuk Pemimpin Hamas:
Ismail dan Khalid

Sabtu 27 Desember 2008, hanya dua hari menjelang tahun baru 1430 Hijriyah. Pukul 11.30 menjelang azan Zuhur di Jalur Gaza, Palestina. Pukul 15.30 saat azan asar baru usai berkumandang di Depok, Indonesia.

Mendadak angkatan udara pemerintah Zionis Yahudi Israel m
eluncurkan 30 rudal ke sasaran-sasaran di jalur Gaza yang menghancurkan sejumlah kantor kepolisian Hamas.
Israeli Airstrike ini telah menyebabkan ratusan warga Palestina menjadi syuhada dan ratusan lainnya terluka. Sebagian korban dari kalangan petugas keamanan Gaza. Namun sebagian adalah anak-anak, ibu-ibu dan kalangan sipil lainnya.

Pemerintah Zionis Yahudi Israel jelas melakukan kezaliman yang nyata...!

Mereka telah melanggar semua hukum yang berlaku, bahkan hukum mereka sendiri. Sebagaimana kita ketahui sesungguhnya hari Sabtu bagi kaum Yahudi adalah ”Hari Sabat”, hari di mana setiap Yahudi semestinya berdiam diri di rumah masing-masing.

Alih-alih mereka mentaati hukum mereka sendiri, bahkan mereka melakukan pembantaian pada hari Sabat. Mereka memang terkenal biasa melanggar semua hukum yang ada, namun mereka tetap takut bila harus melanggar hukum mereka sendiri.

Demikian pula dengan kasus Madoff, sang Yahudi penipu sesama Yahudi. Ini merupakan suatu pelanggaran hukum mereka sendiri.

Di kalangan Yahudi ada konsensus bahwa jika ingin menipu, silahkan saja lakukan kepada para Ghoyim (kaum non-Yahudi) asalkan jangan lakukan kepada sesama Yahudi. Itul
ah sebabnya setelah penipuan Madoff terbongkar, kalangan Yahudi menuduh Madoff sebagai seorang anti-Semit (anti Yahudi)...!

Sungguh demi Allah, kaum Yahudi sedang mengundang percepatan azab Allah atas mereka di dunia sebelum azab Allah yang bakal mereka terima di akhirat...!! !

Izinkanlah saya menyampaikan pesan kepada para pemimpin Ham
as:

Alhamdulillah. Wash-sholatu wassalamu ’ala Nabiyina Muhammadin wa ’ala aalihi wa ashaabihi wa junuudihi wa man tabi’ahum bi-ihsaanin ilaa yaumil qiyamah. Wa ba’du.

Saudaraku fillah Al-Akh Al-Fadhil Ismail Haniya serta Al-Akh Al-Aziz Khalid Misy’al.

Izinkanlah kami menyampaikan salam ukhuwwah, salam penghormatan, salam jihad dan salam para penghuni surga kepada Anda dari saudara-saudara Muslim Anda di Indonesia:

Assalamu’alaikum wa rahmaatullaahi wa barakaatuh.

Kami umat Islam di Indonesia sangat berduka dan prihatin atas apa yang menimpa rakyat Anda di Gaza khususnya. Tindakan Yahudi Zionis Israel pada hari Sabtu kemarin cuma membuktikan kebenaran firman Allah:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)

Kami senantiasa meyakini benarnya firman Allah ta’aala di atas. Sedetikpun kami tidak percaya bahwa pemerintah Zionis Yahudi Israel pernah memiliki niat baik bagi kita kaum Muslimin.

Apa yang mereka lakukan kemarin nyata-nyata melanggar semua hukum yang berlaku. Bahkan tanpa ragu mereka telah melanggar hukum hari Sabat. Sungguh demi Allah, kaum Yahudi sedang mengundang percepatan azab Allah atas mereka di dunia sebelum azab Allah yang bakal mereka terima di akhirat...!! !

Kami umat Islam di Indonesia sangat intens mengikuti perkembangan di bumi suci Palestina. Bagi kami Palestina merupakan negeri istimewa karena kehadiran Masjid Al-Aqso.

Bagi kami bumi Palestina sungguh istimewa karena hadirnya saudara-saudara Muslim kami yang istiqomah dan sabar melakukan perlawanan di baris terdepan menghadapi para penzalim Yahudi. Banyak di antara kami yang tidak puas dibatasi hanya dengan doa, dana, ceramah dan tulisan dalam menunujukkan solidaritas kami kepada rakyat Palestina.


Banyak di antara kami yang amat mengidamkan untuk diizinkan Allah ta’aala langsung berangkat ke sana dan bergabung dengan barisan perlawanan Anda memngorbankan darah dan nyawa demi mengangkat panji-panji kalimah Allah ta’aala di bumi para Nabi dan Rasul Allah.

Saudaraku fillah Al-Akh Al-Fadhil Ismail Haniya serta Al-Akh Al-Aziz Khalid M
isy’al.

Kami sangat iri dan bangga melihat semangat iman dan jihad rakyat Anda di Palestina. Bahkan kami sangat iri menyaksikan semangat hubb asy-syahadah (cinta mati syahid) rakyat Palestina.

Kami sungguh terharu dan iri ketika menyaksikan lewat pemberitaan TV seorang polisi Gaza yang terluka parah mengangkat jari telunjuk kanannya mengucapkan lafal kalimat thoyyibah saat menjemput kemuliaan mati syahid...!!!

Semangat inilah yang paling ditakuti oleh musuh. Mereka lebih takut menghadapi para mujahidin fi sabilillah daripada Allah ta’aala, Penguasa langit dan bumi.

لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
”Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS Al-Hasyr ayat 13)

Kami sangat iri dan bangga menyaksikan kesabaran dan istiqomah rakyat Anda menghadapi blokade dan pemboikotan yang sudah berlangsung dua tahun. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana kami bisa melewati derita berkepanjangan seperti yang dialami rakyat Palestina di jalur Gaza.

Maafkan kami, seandainya kami sempat absen mendoakan rakyat Gaza walau hanya absen sehari saja.

Kami juga sangat malu dan marah menyaksikan sikap dan kelakuan para pemimpin negeri-negeri Muslim pada umumnya. Para pemimpin negara-negara Barat tentu tidak pernah menjadi tempat berharap kami.

Saudaraku, yakinlah dunia dewasa ini penuh fitnah. Kita sedang berada pada babak paling kelam dari sejarah perjalanan ummat Islam. Allah ta’aala sedang menguji kesabaran kaum muslimin dengan menyerahkan kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar.

Ini Cuma masalah giliran.

Taqdir Allah ta’aala dewasa ini mengharuskan kita mengalami giliran kekalahan, sementara Allah memberi giliran kemenangan di dunia kepada kaum kuffar. Ini ummat Islam rasakan bersama semenjak Allah ta’aala taqdirkan runtuhnya tatanan terakhir kehidupan bernegara kita, yaitu khilafah Islamiyyah pada tahun 1924/1342 H.

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ta’aala membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran ayat 140)

We are living in a godless civilization.

Bahkan kita sedang menyaksikan pengokohan berdirinya Sistem Dajjal. Sistem dunia dewasa ini sudah sedemikian rupa siap menyambut kedatangan pemimpinnya, yaitu oknum Dajjal itu sendiri..!!! Dajjal merupakan puncak fitnah di Akhir Zaman.

Artinya, kita dewasa ini sedang menjalani fase rangkaian fitnah menjelang munculnya puncak fitnah.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar-
kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR Ahmad V/389)

Saudaraku fillah Al-Akh Al-Fadhil Ismail Haniya serta Al-Akh Al-Aziz Khalid Misy’al.

Rangkaian fitnah menjelang datangnya Dajjal sudah terlihat di dalam realitas dunia dewasa ini. Semua lini kehidupan umat manusia telah dipersiapkan menjadi jebakan fitnah yang siap menjerat siapapun.

Baik itu di bidang ideologi, agama, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, seni, pertahanan-keamanan dan militer. Semua aspek kehidupan sudah didominasi oleh Dajjalic Values dan dijauhkan dari Islamic Values.


Dalam keadaan seperti ini, saya mengajak Anda berdua selaku pemimpin dari barisan Mujahidin di bumi Isra dan Mi’raj untuk senantiasa hanya dan hanya bertaqwa kepada Allah ’Azza wa Jalla. Kami percaya ini sudah menjadi prinsip yang Anda yakini bahkan terapkan selama ini bersama-sama dengan rakyat Anda.

Kami tidak meragukan hal itu. Namun dengan segala rasa hormat kami kepada Anda, kami sangat berharap agar sikap ini menjadi satu-satunya bahasa yang Anda gunakan dalam komunikasi publik dan komunikasi politik Anda.


Saudaraku fillah Al-Akh Al-Fadhil Ismail Haniya serta Al-Akh Al-Aziz Khalid Misy’al.

Dari kejauhan kami menyimak dan sangat memperhatikan apa yang Anda berdua sampaikan melalui berbagai press conference. Kami sepenuhnya setuju dan bangga dengan apa yang Anda berdua sampaikan.

Hanya ada satu catatan yang barangkali bisa menyempurnakan komunike Anda di masa yang akan datang. Kami sangat berharap untuk selanjutnya Anda berdua dan segenap jajaran pimpinan Hamas lainnya agar menggunakan bahasa da’wah Islam semata dalam menyampaikan press conference.

Tinggalkanlah bahasa dunia yang biasa digunakan para pemimpin dunia jahil dewasa ini. Jangan lagi menggunakan kata-kata seperti misalnya: ”I ask the international community to break the Israel’s seige on Gaza.”

Akan jauh lebih sempurna jika misalnya Anda berkata “We do not ask anything from the international community. We only ask Allah the Al-Mighty alone to break the Israeli’s siege on Gaza.”

Bukankah sudah terbukti bahwa dunia internasional memang tidak sanggup berbuat apapun demi kemaslahatan rakyat Palestina? Bukankah sudah terbukti bahwa para pemimpin dunia Arab dan dunia Islam dewasa ini tidak cukup nyali untuk berbuat apapun yang signifikan bagi kepentingan rakyat Gaza?

Dan saudaraku, bukankah yang paling penting adalah mengajarkan penduduk dunia untuk hanya menjadikan Allah ta’aala semata sebagai tempat memohon dan tempat mengabdi?

Bukankah ini yang selamanya telah menyebabkan para mujahidin dimanapun dan kapanpun sanggup mewujudkan ’izzul Islam wal muslimin dan menghinakan serta mengalahkan kaum kuffar? Wahai saudaraku pemimpin Hamas, gunakanlah bahasa Da’wah Islam saja dalam menyambut kemenangan sejati....

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-Baqarah ayat 214)

Saudaraku fillah Al-Akh Al-Fadhil Ismail Haniya serta Al-Akh Al-Aziz Khalid Misy’al.

Ummat Islam merindukan munculnya para pemimpin yang meneladani Uswah Hasanah kita yakni Imam Al-Muttaqiin dan Panglima Mujahidin Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam segenap kiprahnya.

Ummat sudah terlalu lama dikecewakan oleh para pemimpin yang mengekor kepada kaum kuffar, termasuk dalam retorikanya. Maka penuhilah harapan kami. Anda termasuk para pemimpin langka di zaman penuh fitnah ini.

Kami doakan Anda dan kami bersama akan memperpanjang daftar para pejuang sejati di era modern ini seperti Ahmad Yasin, Abdul Aziz Rantisi, Yahya Ayyasy, Abdullah Azzam, Sayyid Qutb dan Hasan Al-Banna. Kami sudah lihat indikasinya dalam sikap dan aksi Anda beserta rakyat Anda selama ini. Tolong sempurnakan hal itu dalam lisan Anda.

Semoga Allah persatukan kita di dalam barisan orang-orang yang telah memperoleh nikmat Allah karena menempuhnya, yaitu para Nabiyyin, para Shiddiqiin, para Syuhada dan para Sholihin. Mereka itulah sebaik-baiknya teman.


Wa shollallahu ’ala Nabiyyina Muhammad wa ’ala aalihi wa ashaabihi wa man tabi’ahum bi-ihsaanin ilaa yaum ad-Diin.

Wassalamu’alaikum wa rahmaatullaahi wa barakaatuh

Akhuka fillah,

Muhammad Ihsan Tandjung

Depok, 28 Desember 2008 / 29 Dzulhijjah 1429 H

sabili

Rabu, 07 Januari 2009

Selamat Tahun Baru, Milik Siapa?

Kamis, 8 Januari 2009
Assalamu'alaikum Wr Wb

Beberapa hari yang lalu kita umat islam merayakan tahun baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. Tahun baru adalah tidak untuk dirayakan tetapi tahun baru adalah saat tepat untuk muhasabah terhadap rapor prestasi ibadah kita dalam rentang satu tahun yang terlewati, begitu yang saya terima dari guru saya sewaktu masih sekolah. Tak jarang juga saya dengar komentar para khotib agar kita menyadari bahwa jatah kita di dunia berkurang lagi satu tahun. Kedua-duanya masuk akal dan realistis jika kita sadar akan tujuan hidup kita.

Beberapa hari setelah itu saya lihat di jalan-jalan banyak orang jual terompet dengan berbagai macam bentuk. Saya teringat bahwa sebentar lagi tahun Masehi berganti dari 2008 menjadi 2009. "Pantesan dunia seperti meledak", dan jangan kuatir karena nantinya dunia pasti akan meledak. Saya sempat berfikir untuk beli satu buat mainan Hizballah di rumah, tapi... "jangan ah... itu bukan kebiasaan yang baik" pikir saya. Dan ternyata benar saja, sewaktu saya ngobrol dengan atasan saya di kantor, beliau bilang bahwa kebiasaan meniup terompet semacam itu adalah kebiasaan orang Yahudi.

Teringat Yahudi, teringat Israel. Semakin hari semakin bengis saja, kayaknya memang umat islam harus mendukung sepenuhnya konsep Ahmadinejad untuk menghapus Israel dari peta dunia. Karena jika tidak akan menjadi berbalik Israel yang akan menghapus Islam dari peta dunia.

Benar saja, malam itu tepat pukul 00.00 saya terbangun oleh suara ledakan-ledakan yang tidak biasa diiringi teriakan-teriakan manusia. Kontan saya pegangi Hizballah, demikian juga istri saya. Astaghfirullah, setelah saya lihat ternyata orang-orang main perang-perangan dengan kembang api, "kenapa tidak pergi saja ke Palestina untuk bantu saudara-saudara kita yang dibombardir dengan kembang api buatan Israel dan Amerika, asli buatan luar negeri lho! dan juga lebih bermanfaat, kalaupun mati juga tidak sia-sia karena jaminannya surga, sedangkan kena kembang api di sini bakal mati
sangit (hangus)". Astaghfirullah...

Tapi memang itulah bedanya tahun baru Islam (Hijriyah) dan tahun baru Masehi. Saya memang kurang suka dengan perayaan itu tapi dalam hati saya tersenyum bangga, "inilah bedanya antara Islam dan bukan, Islam adalah rahmatallil'alamin, Islam membuat hati sejuk dan mengutamakan kebaikan
nafs (jiwa) manusia sedangkan yang bukan hanya mengedepankan kekonyolan, na'udzubillah". Coba kita renungkan ini dengan sejujurnya.

Kembali tentang Yahudi Israel. Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah website Islam, saya sedikit terkejut dengan analisa para ahli, berikut sedikit saya kutip:
Dalam Atlas of The World's Religions, disebutkan :

"jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000. Pemeluk Islam adalah 1.179.326.000, dan pemeluk Kristen 1.965.993.000. (Ninian Smart, Atlas of The World's Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut jumlah Yahudi hanya 13 juta. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Kanada (362.000), Inggris (285.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003)"

dalam website tersebut tulisan itu diberi judul "Mengapa Kita Kalah?", judul yang sangat "enteng" tapi memang itulah faktanya. Kalo saya bandingkan dengan jaman Rosulullah dulu, seringkali dalam sebuah peperangan umat Islam jauh lebih sedikit dengan perbandingan yang cukup signifikan (bahasa jawanya "Njomplang") tapi bisa menang, kenapa sekarang berbalik? kalo saya boleh menarik kesimpulan, total 1,179 milyar itu bukan gak mungkin dalamnya banyak ulatnya (baca = munafik), karena begitulah dari dulu cara orang kafir mengalahkan Islam, "dengan pengkhianatan". Apakah kita termasuk pengkhianat itu??
monggo kita semua instropeksi diri

Belum lagi kalo kita lihat peta ekonomi atau mungkin peta Atlas.
1. Peta ekonomi, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, dan beberapa negara arab lain adalah negara dengan kekayaan melimpah, dan sayangnya negara-negara itu adalah negara-negara Islam. Kenapa saya sebut
"sayangnya", karena sama sekali tak bertaring. Semoga prasangka saya tidak benar bahwa para pemimpinnya adalah ulat-ulat itu.
2. Peta Atlas,terlihat jelas
border perbatasan palestina antara lain Mesir, Yordania, Lebanon. Lantas para pemimpinnya ada di mana? atau lebih ekstrimnya "bersembunyi di ketiak siapa?". Sekali lagi, sayangnya negara-negara itu jauh lebih besar dari Israel.

Masih ada pertanyaan lain, "dimanakah para HAM-ers??", di saat massa FPI bentrok dengan AKKBB ato apalah itu namanya, HAM-ers meledak-ledak whuaaa ramai sampek ponakan saya yang masih kecil ikut asyik liat beritanya (whaa ini berarti kita harus lebih cerdik dalam memberi pengertian kepada anak-anak kita nantinya, karena para pengkhianat Islam cerdik dalam bersilat lidah), tapi sekarang? di saat yang melanggar HAM adalah "teman" mereka sendiri? seolah lidah mereka kaku kedinginan karena takut, "takut ga dapet honor kaleee". Apalagi yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal itu, whaaa... sama sekali mereka tak bersuara, mungkin karena mereka bukan Islam kali ya?

Entahlah... semoga saja saudara-saudara di Palestina bisa tabah dengan "iming2" dari saudaranya sendiri di seluruh dunia dengan perayaan tahun barunya.

Wassalamu'alaikum Wr Wb