Kamis, 09 Juni 2011

Menyayangi Anak dan Menciuminya

ـ   عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال : أََخَذَ النَبٍي ـ صلى الله عليه وسلم ـ إبراهيم ، فَقَبَّلَهُ وشمَّهُ    رواه البخاري..

Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah saw menggendong Ibrahim dan menciuminya. (HR. Al Bukhari)

Ibnu Al Baththal berkata:

يَجوزُ تَقْبِيلَ الوَلَدِ الصغيرِ في كلِّ عَضُّو مِنْهُ ،وكذا الكبيرُ عند أكْثَرُِ العُلَماءِ ، مَالَ لَمْ يَكُنْ عَوْرِةُ ، فلا تُقَبِِلُ عورة الوَلَدِ

Diperbolehkan mencium anak kecil, di semua anggota badannya. Demikian juga orang dewasa –menurut mayoritas ulama-, kecuali auratnya. Maka tidak boleh hukumnya mencium aurat anak.

أخذ النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ إبراهيم

Rasulullah mengambil anaknya –Ibrahim- dari ibunya Mariyah Al Qibthiyah,
فَقَبَّلَه Mencium dengan mulutnya, وَشَمَّهُ mencium dengan hidungnya, sepertinya ia adalah   ُ رِيحانَة:  pengharumnya

Anak-anak itu diciumi serasa parfum – sepertinya. Rasulullah saw menerangkan dua cucunya Al Hasan dan Al Husain, dua putra Fatimah dengan kalimat:
هما ريحانتاي من الدنيا  Keduanya adalah keharumanku di dunia. (HR Al Bukhari dari Ibnu Umar RA)
Kalimat, ريحانتاي من الدنيا berarti bagian parfum duniawiku.

Itulah ciuman yang Rasulullah saw lakukan kepada cucunya, menunjukkan cinta dan kasih sayangnya.
Hadits ini menunjukkan cinta anak dan menciumnya.

2 ـ   عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال : قبل رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ الحسن بن عليّ ، وعنده ـ الأقرع بن حابس التميمي ، جالساً ، فقال الأقرع : إن لي عشرة من الولد ما قبلت منهم أحداً ، فنظر إليه رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، ثم قال : ” من لا يرحم لا يرحم “  .رواه البخاري .

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah saw menciumi Al Hasan bin Ali, di hadapan Al Aqra’ bin Habis At Tamimiy yang sedang duduk. Lalu Al Aqra’ berkata: Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, dan aku belum pernah menciumi seorang pun. Lalu Rasulullah saw memandanginya dan bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi” (HR. Al Bukhari)

Penjelasan:

Rasulullah saw mencium Al Hasan bin Ali RA Putra Fathimah RA.
Al Hasan lahir pada tahun 2 (dua) Hijriyah.
Ketika itu Al Aqra’bin Habis At Tamimiy sedang duduk berada di hadapan Rasulullah saw. Ia seorang muallaf, sehingga Islamnya menjadi baik.
Rasulullah saw melihatnya dengan pandangan yang kurang menyenangkan karena ia tidak pernah mencium anaknya.

Kemudian Rasulullah saw bersabda, untuk merubah sikapnya terhadap anak-anaknya, sehingga anaknya merasakan kasih sayangnya dengan menciuminya.
من لا يرحم لا يرحم Barang siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak disayangi.
من لا يرحم لا يرحم Huruf ya pertama di baca fathah dan ya’ kedua dibaca dhammah. Boleh juga kedua ya’ dibaca rafa’ (huruf mim dibaca dhammah) dengan menstatuskan kata  “Man” sebagai isim Maushul. Atau keduanya dibaca jazm (mim dibaca sukun/mati) dan kata Man berstatus syarat. Namun pada umumnya para rawi membacanya dengan rafa’.

Jawaban Rasulullah kepada Al Aqra menunjukkan bahwa mencium anak itu bertujuan untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian, bukan kelezatan atau syahwat.
Kata “rahmat” kasih sayang dari sesama makhluk adalah kelembutan hati yang membuat seseorang memuliakan,  dan ihsan (berbuat baik). Rahmat dari sesama makhluk adalah termasuk dalam amal shalih, sedangkan rahmat dari Allah swt adalah balasan atas amal shalih yang dilakukan.

Sesungguhnya orang yang berfikir dan bersemangat untuk membuat kebaikan pada dirinya 
sendiri akan berusaha agar rasa kasih sayang itu menjadi akhlaq dan kepribadiannya, agar mendapatkan rahmat Allah dan kasih sayang sesama manusia. Barang siapa yang menyayangi ia akan disayangi, dan sebaliknya; barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi.
Dari hadits di atas dapat disimpulkan antara lain:
  1. Masyru’iyyah (disyariatkannya) mencium anak, dan hal ini adalah sunnah Nabi yang mulia.
  2. Orang yang tidak menyayangi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya akan terhalang dari rahmat Allah, dan kasih sayang sesama manusia. Karena balasan itu serupa dengan amalnya.
  3. Orang yang menyayangi orang lain mendapatkan keberuntungan rahmat Allah dan kasih sayang sesama manusia yang akan menjadi penolong di kala sempit dan pembela pada saat yang dibutuhkan.

Tafsir Surat Al Kafirun

Surat Al-Kaafiruun merupakan surat Makkiyah yang terdiri dari enam ayat. Surat ini memutus keinginan orang-orang kafir dan menjelaskan perbedaan antara ibadah mereka dan ibadah Nabi SAW yang lebih luas.

 قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿ ٦)٦

Artinya:
1.  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Diriwayatkan bahwa setelah para pemimpin Quraisyberputus asa menghadapi Nabi, mereka mendatangi beliau. Mereka melihat adanya kebaikan dalam dakwah beliau namun mereka enggan mengikutinya karena kecintaan mereka bertaqlid buta. Mereka berkata, “Marilah, kami menyembah Tuhanmu untuk suatu masa dan kamu menyembah Tuhan kami untuk suatu masa. Dengan demikian ada perdamaian di antara kita dan permusuhan lenyap. Jika pada ibadah kami ada kebenaran Anda bisa mengambil sebagian dan jika pada ibadahmu ada kebenaran kami mengambilnya. Maka surat ini turun untuk membantah mereka dan memupus harapan mereka.

Syarah:

Ya Muhammad, katakan kepada orang-orang kafir yang tidak ada kebaikannya sedikit pun pada mereka dan tidak ada harapan untuk beriman. Katakan kepada mereka, aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sebab kalian menyembah tuhan-tuhan yang kalian jadikan sebagai perantara kepada Allah yang Esa lagi Maha Perkasa. Kalian menyembah tuhan-tuhan yang kalian kira terwujud dalam bentuk patung atau berhala. Sedangkan aku menyembah Tuhan yang Esa, Satu, Tunggal, Tempat bergantung yang tidak perlu istri dan anak, tiada yang menyamai dan tiada pesaing. Tidak terwujud dalam fisik atau pribadi seseorang. Tidak membutuhkan perantara dan tidak ada yang mendekati-Nya melalui makhluk. Sarana yang mendekatkan seseorang kepada-Nya hanyalah ibadah. Jadi, antara apa yang aku sembah dan kalian sembah sangat berbeda. Maka aku tidak menyembah apa yang kalian sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah.

Hai orang-orang kafir yang mantap dengan kekafiran. Aku tidak menggunakan cara ibadah kalian dan kalian tidak menggunakan cara ibadahku. Ayat 2 dan 3 menunjukkan perbedaan antar kedua Tuhan yang disembah. Nabi menyembah Allah sedangkan mereka menyembah patung dan berhala berikut perantara lainnya. Sementara ayat 4 dan 5 menunjukkan perbedaan ungkapan. Ibadah Nabi itu murni dan tidak terkontaminasi oleh kesyirikan serta jauh dari ketidaktahuan tentang Tuhan yang disembah itu. Ibadah kalian penuh dengan kesyirikan juga tawasul tanpa usaha. Bagaimana mungkin kedua jenis ibadah ini bisa bertemu. Sebagian ulama berkata, membantah pengulangan pada surat ini. Pengertiannya, aku tidak menyembah apa yang kalian di masa lalu demikian pula kalian, tidak menyembah apa yang aku sembah. Jelas dan akhirnya sama.

Bagi kalian agama kalian termasuk dosanya kalian tanggung sendiri dan bagi kami agama kami, aku bertanggung jawab terhadap memikul bebannya. Kedua ungkapan untuk menguatkan ungkapan sebelumnya.

Mengembalikan "Fithrah" Peran Perempuan

Sumber: Eramuslim
Penulis: Ummu Arik (Aliya), Ibu rumah tangga, alumnus Universitas Padjadjaran Bandung

Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini. Kebutuhan ekonomi yang mendesak dan ide pemberdayaan ekonomi perempuan yang didengung-dengungkan oleh kaum feminis telah menyihir wanita-wanita Indonesia untuk terjun langsung di sektor ekonomi.

Dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan tidak hanya akan memberi keuntungan, tetapi juga memberi solusi dari persoalan keluarga termasuk masalah perekonomian negara, maka dicanangkanlah program pemberdayaan perempuan berdasarkan Instruksi Presiden RI No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional Tanggal 19 Desember 2000.

Benarkah dengan pemberdayaan ekonomi perempuan ini bisa memperbaiki ekonomi keluarga-keluarga Indonesia yang notabene hampir 50% nya ini berada dalam kemiskinan?
Program pemberdayaaan ekonomi perempuan tersebut telah menggeser peran perempuan sebagai ibu menjadi ‘kepala’ rumah tangga yang harus menafkahi keluarga. Hal ini terjadi lantaran diterapkannya sistem kapitalisme yang secara nyata menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi materi.

 



Program-program pemberdayaan ekonomi perempuan yang digencarkan oleh pemerintah, hanya bersifat parsial dan tidak menyentuh akar permasalahan mengenai kemiskinan. Padahal kemiskinan merupakan persoalan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya persoalan perempuan. Terlebih lagi penyebab kemiskinan saat ini, sifatnya struktural akibat diterapkannya sistem kapitalis.

Lalu apa hasil yang sudah dirasakan oleh bangsa ini dengan dilakukannya program pemberdayaan ekonomi perempuan? Apakah sesuai dengan harapan ataukah sebaliknya?
Ide pemberdayaan perempuan telah menambah tingkat perceraian akibat ketimpangan ekonomi keluarga, rusaknya generasi akibat rendahnya perhatian orang tua khususnya ibu, meningkatnya single parent dan rendahnya keinginan untuk menikah karena ingin menjadi wanita karir atau TKW.

Mengembalikan Peran Perempuan dalam Islam

Allah Swt. telah memberi kedudukan mulia bagi perempuan dengan menetapkan mereka menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, karena Allah Pencipta segenap makhluk sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka.

Karena kewajiban utamanya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, maka Islam memberi hak bagi perempuan untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Mereka tinggal di dalam rumah, tetapi mendapat pemenuhan kebutuhan hidupnya secara makruf (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 223).

Dalam sorotan Syariah, Islam sangat memperhatikan peran dan tugas ibu karena ibulah kunci lahirnya generasi tangguh yang akan melanjutkan peradaban yang lebih baik. Menjadi ibu berkualitas haruslah memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan ruhiyah yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang wajib menjalankan seluruh peran keibuan dalam rumah tangga dan meyakini semua itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah Swt.

Hal ini akan mendorong para ibu untuk melaksanakan tugas dengan penuh keikhlasan semata mencari ridha-Nya. Ibu yang berkualitas juga harus memiliki kepribadian Islam. Maksudnya setiap tingkah laku dan cara berpikirnya selalu diarahkan oleh aturan-aturan Islam yang dilandasi oleh Iman.

Ketika peran ibu dan pengurusan rumah tangga diabaikan, maka akan terjadi kerusakan yang akan menimpa anak-anak, suami dan tentu saja ibu itu sendiri. Anak-anak tidak terawat dengan baik, keadaan ini akan memunculkan generasi yang lemah.

Rumah tangga pun tidak terurus, memicu percekcokan suami-istri. Rapuhnya institusi keluarga muslim yang akan menuju pada ambang kehancuran seperti yang dikehendaki demokrasi kapitalisme.
 
Program pemberdayaan perempuan yang diperjuangkan selama ini adalah alat yang telah merusak tatanan keluarga dan menambah permasalahan negeri ini. Perubahan lebih baik hanya bisa diwujudkan dengan Syariah dan Khilafah bukan dengan tetap kukuh dengan demokrasi. Wallahu a'lam.

Selasa, 15 Februari 2011

Duhai Hati, Tetaplah Istiqomah...

Sumber: Dakwatuna.com

Seorang anak kecil datang menghampiri ibunya. Ia merengek minta dibelikan sepatu baru. Di sekolah ia diejek karena sepatunya sudah usang dan banyak tambalan. Dengan berbagai alasan ia utarakan agar ibunya mau membelikan sepatu baru.

Dengan mata berkaca-kaca, sederet kalimat ini keluar dari mulut ibunya, “Nak, kamu kan sudah besar. Kamu harus mengalah dengan adik-adikmu. Mereka butuh uang untuk sekolah mereka nanti. Uangnya ibu tabung untuk mereka. Kalau ibu pakai uang itu untuk membelikan kamu sepatu baru, lalu adik-adikmu sekolah pakai uang siapa? Apa kamu mau adik-adikmu tidak bersekolah?”

Anak kecil tadi tiba-tiba terdiam. Ia terlihat seperti anak remaja yang sudah bisa berpikir cukup berat dan bijak. Digoyang-goyangkan kepalanya sambil mengusap air mata yang tadi keluar deras dari kelopak matanya. Lalu ia berkata, “Bu, kalau nanti adik-adik sudah bisa sekolah. Terus kalau ada sisa uang, belikan sepatu ya..”Anak itu mengatakan kalimat itu dengan terbata-bata, seperti ia tidak rela dengan hal itu tapi ia dipaksa oleh kondisi untuk mengikhlaskan apa yang menjadi kehidupannya. Mendengar itu sang ibu memeluk anaknya dengan erat. Ia tidak menyangka anaknya dapat memahami apa yang terjadi hari ini dengan keluarga mereka. Ia heran anaknya sudah mampu berkata bijak seperti tadi ia dengar.

***
Duhai hati..
Letih yang engkau rasakan selama ini mungkin tak sebanding dengan letihnya hati mereka dalam menapaki kehidupan ini. Di dalam keletihan itu, mereka memahami bahwa letihnya mereka akan membuat mereka menjadi orang-orang seperti yang dicitakan. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja engkau merasa letih tapi kau sudah merintih bagai seribu tahun kau mengalaminya.. Malulah pada mereka yang merasa letih tetapi mereka memaknai letihnya sebagai sesuatu yang dapat mengantarkannya pada sebuah kebahagiaan.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu letih? Bukankah akhir dari perjalanan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..
Lelah memang terus menerus hal-hal kurang mengenakkan itu menerpa hidupmu. Tetapi jika kau renungi kembali kisah di atas, perjuangan mereka tidak mengenal lelah. Setiap lelah menghinggapi mereka, mereka beristirahat dan kemudian bangkit berjuang kembali. Mereka paham kalau diamnya mereka tak dapat membuahkan hasil apapun bagi kehidupannya. Mereka yakin perjuangan dan pengorbanannya selama ini, berlelah-lelahan, akan berbuah sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergantikan nikmatnya. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja kau diberi cobaan dan ujian tapi kau sudah merasa lelah dan menyerah.. Malulah kau pada mereka yang tak punya apa-apa tapi mereka tetap istiqamah berjuang dan berkorban hingga cita-cita mereka tercapai.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu lelah? Bukankah akhir dari kelelahan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..
Sakit yang terus menyapamu selama ini adalah ujian dan cobaan dari Allah seberapa kokohnya engkau menjalani apa-apa yang engkau yakini atas-Nya. Dia ingin tahu seberapa seriuskah engkau dalam menapaki jalan kehidupan yang sudah Dia gariskan. Sakit yang Dia berikan adalah sebuah perhatian khusus-Nya kepadamu. Dia masih sayang kepadamu dengan memberikan ujian dan cobaan. Andai saja kau tak merasa diuji dan diberi cobaan, maka kau akan merasa aman-aman saja, padahal kau sedang berada di tepian jurang yang menganga lebar dan siap menerkammu kapan saja kau lengah..

Duhai hati..
Capeknya dirimu menghadapi segala permasalahan yang engkau temui di sekitarmu, itulah yang terus mengajarkanmu untuk dapat memahami sekelilingmu dengan lebih baik lagi. Di kananmu ada orang-orang yang engkau sayangi dan kasihi. Di depanmu ada orang-orang yang engkau hormati. Di kirimu ada orang-orang yang engkau senantiasa bercengkerama dengannya. Di belakangmu ada orang-orang yang selalu mendukungmu dalam tiap doanya meski kau tak pernah tahu.

Duhai hati..
Seorang ustadz pernah menyampaikan, jika tak senang dengan sepatumu yang lusuh, ingatlah mereka yang tak berkaki namun tak mengeluh. Semoga kita selalu dapat mengingatnya duhai hati.. Seberapa letih, lelah, dan sakitnya engkau.. Masih ada orang-orang yang merasakan itu lebih dari kita tetapi mereka tetap tak mengeluh.. Ada saja cara mereka untuk menyemangati diri.. Ada saja sugesti untuk membuat diri mereka semangat.. Ada saja pemikiran positif yang mereka punya hingga mereka tetap bersemangat.. Ada saja cita-cita yang ingin mereka gapai hingga semangat itu tetap terpatri di dada mereka..

Duhai hati..
Tetaplah istiqamah..
Walau itu berat bagimu..
Percayalah kau mampu menjalaninya..
Asalkan kau selalu menyertai Allah dalam segala hal..
Terpautnya kau duhai hatiku pada Sang Khalik..
Akan membuatmu semakin cantik dan tangguh..
Karena kau adalah mutiara di lautan..
Yang akan terus terjaga sampai masa memisahkan..
Duhai hati.. Tetaplah istiqamah..

Jumat, 14 Januari 2011

Kiat Mengislamkan Suasana Rumah

Sumber: Humaira Nomor 12/Th.I/1422 H


Rumah bukanlah hanya sebagai tempat berteduh dikala hujan maupun panas. Rumah adalah tempat labuhnya hati setiap anggota keluarga. Suasana dan kesan rumah dapat mempengaruhi kejiwaan empunya. Watak dan kepribadian penghuninya mampu terbentuk secara perlahan-lahan akibat suasana yang terjadi didalamnya.

Itulah sebabnya menciptakan lingkungan rumah yang Islami adalah kebutuhan dan keharuasan bagi setiap rumah tangga muslim. Terlebih lagi dalam era globalisasi informasi yang begitu gencar menyeruak ke setiap sudut-sudut rumah kita yang tentu sangat merugikan aqidah. Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, Gunakan Waktu Shalat Sebagai Standar Kegiatan
Kegiatan apapun sebaiknya disesuaikan dengan waktu sholat wajib. Artinya saat adzan berkumandang segala kegiatan harus dihentikan. Demikian pula untuk rencana bepergian jauh, carilah jeda waktu untuk sholat sekaligus untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan.
Waktu-waktu istirahat disesuaikan pula dengan waktu shalat. Tidur siang disesuaikan waktunya agar sudah bisa bangun segar ketika adzan Ashar. Berangkat tidur malam hari lebih awal agar dapat bangun shalat lain dan tidak mengantuk saat shalat Subuh.

Kedua, Lakukan Kegiatan Ruhani Berjamaah
Bukan hanya shalat wajib saja yang dapat dilakukan berjamaah. Kegiatan lain seperti membaca Al Quran, mendengarkan pengajian bahkan menyaksikan acara ruhani di TV pun dapat dilakukan bersama-sama. Kegiatan ini selain mampu mempererat ikatan satu sama lainnya juga menjadikan iman sebagai dasar ikatan keluarga. Suasana penuh keakraban, bermakna ini insyaallah akan selalu dinantikan penghuninya sebagai pelepas dahaga setelah seharian beraktifitas di luar rumah.

Ketiga, Pilih Hiburan Sehat dan Islami
Banyak sekali jenis dan macam hiburan yang tersaji di depan mata. Tanpa seleksi ketat, hiburan-hiburan seperti kaset, VCD, CD dapat merusak kejiwaan penghuni rumah, terutama anak-anak segera buang jauh-jauh media yang berisi lagu-lagu yang tidak mendidik, penuh rayuan dan rangsangan birahi. Juga yang begitu keras, kasar dan garang. Gantilah hiburan yang mendukung keimanan anggota keluarga. Nasyid-nasyid kini telah mudah dijumpai dan dimiliki. Baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Alunan ayat-ayat suci Al Quran sebenarnya hiburan yang paling pas untuk dinikmati bisa melalui kaset atau melantunkannya. Rumah yang senantiasa diramaikan oleh bacaan kitab suci Al Quran niscaya akan sering didatangi malaikat pembawa rahmah. Suasana rumah pun menjadi tenang dan tentram.

Keempat, Pilih Media Massa Islami
Sudah bukan rahasia lagi TV punya pengaruh kuat dalam membentuk pola pikir dan tindak tanduk penontonnya. Dengan beragam acara tersaji yang sebagian besar bahkan membuat kita lupa mengingat Allah. Mutlak bagi kita sebagai orang tua untuk memilihkan acara yang cocok untuk anak-anak kita. Beri pengertian kepada mereka acara apa saja yang baik dan bermanfaat. Tentukan pula waktu yang tepat untuk menjadikan tv sebagai sarana hiburan yang sehat dan mendidik yang baik mereka.

Pemilihan bacaan keluarga pun perlu diseleksi. Majalah ataupun surat kabar yang dipilih jangan sampai memuat gambar-gambar maksiat dan masuk ke rumah kita. Buku-buku cerita untuk anak juga perlu dipilihkan yang Islami. Dan Alhamdulillah sekarang pun mulai tersedia buku-buku tulis, buku pelajaran yang bernuansa Islami.

Selasa, 30 November 2010

Do'a Berantai

Sumber : Kompasiana

Sebuah keluarga yang bahagia yang terdiri dari seorang Suami yang baik dan bijaksana, Seorang istri yang taat dan sholehah dan 2 orang anak yang masih kecil. Sang suami selalu memanjakan anak dan istrinya dengan perhatian dan kasih sayang. Dia selalu tersenyum dan membuat hati anak dan istrinya bahagia. Begitupun dengan sang istri, dia selalu taat dan patuh pada setiap keinginan dan perintah suaminya. Setiap hari, saat suami hendak pergi mencari nafkah, dia selalu mengantarnya dengan senyum ketulusan dan do’a. begitupun jika suaminya pulang kerja, dia selalu menyambutnya dengan penampilan yang menakjubkan disertai dengan wewangian dan tidak tertinggal sebuah senyuman tulus menyambut kepulangan sang suami.
 
Air hangat dan hidangan selalu tersedia dikala sang suami pulang. Begitupun dengan kedua anaknya. Mereka selalu menemani sang ibu dan senyuman mereka selalu menghiasi hati ayah dan ibunya. Sang suami pun merasa bersyukur karena telah dikaruniai seorang istri yang sholehah juga buah hati yang selalu membuat hatinya berbunga penuh kebahagiaan.

Namun didalam hatinya, dia mempunyai sebuah ketakutan. Dia amat menyayangi anak dan istrinya dan dia tidak ingin masa lalunya terjadi pada kedua anaknya. Entah masa lalu seperti apa yang selama ini dia sembunyikan dari istrinya. Dia selalu jujur tentang semua hal kepada istrinya kecuali tentang masa lalunya yang dia tidak ingin siapapun tahu akan hal itu. Namun dia sadar, bahwa Allah Maha Tahu.

Kemudian Pada suatu malam saat dia bangun malam untuk shalat tahajud dia meratapi semua kesalahan dan kelalaiannya di masa silam. Saat itu, istrinya terbangun. Melihat suaminya yang tidak ada di tempat tidur dia pun merasa heran karena biasanya suaminya selalu membangunkannya jika mau shalat tahajud. sang istri pun bangun dan keluar kamar, saat itu dia melihat lampu kamar musholla menyala dan dia pun segera menghampirinya.Ketika dia tiba di pintu musholla yang sedikit terbuka, dia melihat suaminya sedang menangis di atas sajadahnya dan kemudian terucaplah sebuah do’a dari mulut suaminya.

“Ya Allah Ya Rabb… Sejujurnya hamba sangat malu pada Mu. Karunia Mu teramat besar namun rasa syukur dan penghambaan ku tidak pernah sebanding dengan apa yang telah Kau Berikan pada ku. Meskipun hamba teramat hina dan tidak pantas memiohon pada Mu, namun Hamba tidak punya tempat lain untuk mengadu dan memohon pertolongan selain pada Mu.

Ya Allah.. Ampuni dosa-dosa ku dimasa lalu, Ampuni Dosa anak dan istri ku.. ayah ibu ku dan semua orang-orang yang kusayangi. Jika hamba terlampau hina untuk memintanya dan andai kata Kau tidak sudi mengabulkannya. Berikan semua amal kebaikan hamba pada mereka.. Ya Allah yang maha pemurah.. Jika itu belum cukup, Biarkan hamba yang menanggung semua dosa mereka, asalkan mereka bahagia.

Ya Allah.. jika saat ini Kau berkenan mengabulkan do’a hamba dan mungkin suatu saat nanti hamba akan tinggal ditempat yang nista (neraka) Hamba mohon kabulkan 3 permohonan terakhir hamba.

1. Hamba mohon agar engkau sudi menemui hamba Mu yang hina ini.. meskipun begitu, hamba ingin Kau tahu bahwa hamba yang nista ini amat mencintai Mu.
2. Perkenankan hamba bertemu dengan kekasih Mu (Nabi Muhammad SAW) Meskipun hamba teramat malu dan tidak akan punya keberanian untuk menatapnya, izinkan hamba untuk bisa melihatnya. Izinkan hamba untuk bisa memandang wajah orang yang Kau cintai walaupun sesaat. Meskipun hamba adalah umatnya yang penuh noda, namun.. Hamba mencintainya dan teramat rindu padanya.
3. Saat kelak hamba berada di tempat yang nista, Hamba mohon izinkan hamba agar bisa melihat orang-orang yang hamba sayangi bahagia di tempat yang mulia.. itu saja sudah cukup ya Rabb… Hamba sudah cukup merasa bahagia melebihi apapun..

Ampuni Anak Istri hamba, Orang tua dan kerabat hamba, guru-guru hamba, saudara-saudara hamba, semua umat muslim di dunia, bahkan ampuni juga musuh-musuh hamba dan berikan mereka petunjuk ya Rabb..

Sekali lagi terima kasih Ya Allah.. Engkau adalah tempat berteduh, hamba benar-benar merasa nyaman saat mengadu pada Mu.. Terima kasih Engkau selalu menemani hamba.. Sampaikan salam hamba pada Kekasih Mu.. Walhamdulillahi Rabbil Aalamiin….!”

Setelah sang istri mendengar do’a yang terucap dari mulut suaminya, ia pun bergegas mengambil air wudlu dan shalat tahajud. setelah itu dia berdo’a..

Ya Allah.. Terima kasih.. Kau telah Karuniakan aku suami yang amat menyayangiku. Aku sungguh bahagia Ya Allah.. namun kebahagiaan ini tak sempurna tanpa dirinya. Ampuni Suami ku Ya Allah, selamatkan dia, Biarkan hamba yang menggantikannya….

Sang istri berdo’a untuk menggantikan suaminya dan mengajukan 3 permintaan yang sama seperti suaminya.

Di lain tempat saat sang ibu sedang berdo’a, anaknya yang paling kecil ( 5th ) pergi menuju kamar ibunya karena ingin di antar kekamar kecil. Saat dia sampai di pintu kamar ibunya, dia pun mendengar do’a sang ibu. dia menangis terharu dan bergegas kembali ke kamarnya. sambil menangis dia berdo’a hal yang sama. Dia bersyukur memiliki seorang ibu yang baik dan ayah yang begitu menyayanginya. dia juga mengajukan 3 hal yang sama seperti ayah dan ibunya.

Di saat itu sang kakak (7th) berjalan menuju kamar setelah dia sholat tahajud (dia sudah terbiasa bangun malam karena didikan ayah dan ibunya). Saat hendak masuk dia melihat dan mendengar apa yang dikatakan sang adik dalam tangisnya.

Mendengar hal itu dia kembali ke ruangan kosong tempat dia shalat dan berdo’a hal yang sama.. Dia amat menyayangi ayah dan ibu serta adiknya. dia terharu dengan sang adik yang usianya masih dini namun sudah memiliki kemauan dan keikhlasan untuk kedua orang tuanya dan dirinya. Lagi-lagi dia mengajukan 3 permohonan terakhir yang sama…

Subhanallah… Sahabat.. Andai kata itu adalah suami kita, istri kita, anak kita dan itu adalah keluarga kita.. Sungguh beruntung dan bahagianya….

Rabbana hablana min azwaajinaa wadhurriyaatinaa qurrota a’yun, waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa…

Semoga bermanfaat ^_^

Minggu, 31 Oktober 2010

Bahagiakan Mereka, Nyalakan Semangatnya


Tidak ada anak yang bodoh. Kitalah yang tidak mengerti bagaimana merangsang kecerdasan dan menggairahkan minat belajar mereka

Oleh Mohammad Fauzil Adhim*

TIDAK ada anak yang bandel. Kitalah yang tidak tahu bagaimana mengajak bicara, menyemangati, dan memberikan arah hidup bagi mereka. Kitalah yang lupa untuk bermain bersama, bercanda, dan bercerita agar hati mereka dekat dengan kita. Padahal kita tahu kedekatan hati itulah yang membuat anak akan mendengar kata-kata kita.

Tidak ada anak yang bodoh. Kitalah yang tidak mengerti bagaimana merangsang kecerdasan dan menggairahkan minat belajar mereka. Setiap anak–asal normal—lahir dalam keadaan jenius dan penuh rasa ingin tahu. Kitalah yang mematikannya dengan hadiah-hadiah, bahkan di saat mereka tidak menginginkannya.

Kita lupa bahwa anak-anak pada awalnya tidak memerlukan hadiah untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Tanpa hadiah, anak-anak tetap bersemangat belajar merangkak dan berjalan, meski harus beberapa kali tersungkur.

Anak-anak tidak pernah meminta uang untuk satu kosa kata baru yang mereka kuasai di waktu kecil. Mereka belajar karena ingin tahu. Mereka melakukan hal-hal besar yang bermanfaat karena bersemangat. Bukan karena menghindari hukuman. Bukan juga untuk mengharap imbalan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat semangatnya menyala-nyala sesudah kita berkali-kali mematikannya? Apa yang bisa kita perbuat agar anak-anak memiliki semangat berkobar-kobar?

Kasih Sayang

Mari kita lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sepanjang yang saya ketahui (ingatkan kalau keliru), Rasulullah tidak menggunakan dinar dan dirham untuk merangsang anak-anak berbuat baik. Tetapi anak-anak itu bersemangat karena Rasulullah memberi perhatian dan waktunya untuk menggembirakan hati. Rasulullah bercanda, bermain-main, bersikap lemah lembut, dan melimpahkan cinta kasih yang tulus kepada anak-anak.

Pernah Rasulullah menggendong cucunya, Umamah putri Zainab. Padahal ketika itu beliau sedang shalat.

Abu Qatadah berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW, sedangkan Umamah binti Abi Al-Ash berada di atas bahu Rasulullah (digendong). Lalu beliau shalat. Ketika beliau rukuk, maka Umamah diletakkan, dan ketika beliau bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat.” (Riwayat Bukhari)

Sebuah pelajaran penting tentang betapa besar nilai kasih sayang bagi proses pendidikan (tarbiyah) dan pembentukan karakter anak-anak (ta’dib). Begitu pentingnya, sehingga saat shalat pun diizinkan untuk menggendong anak yang masih kecil agar hilang rasa susahnya dan gembira hatinya.

Betapa besar nilai kedekatan kita dengan anak-anak bagi proses penanaman nilai tauhid dan pembentukan sikap religius, sehingga Rasulullah pun pernah memendekkan shalatnya karena terdengar tangisan anak. Sayangnya hari ini, hanya karena kita tidak bisa shalat dengan khusyuk, anak-anak kita halau dari masjid dan tempat kita shalat.

Kita suruh anak-anak pergi jauh-jauh hanya karena mereka bergembira di masjid; berteriak-teriak, berlarian ke sana kemari, dan menirukan gerakan shalat kita dengan antusias dan jenaka. Kita larang anak-anak kecil masuk masjid karena tidak ingin mendengar tangisnya. Kita lupa bahwa Rasulullah memendekkan shalatnya bukan karena terganggu tangis anak-anak, tetapi agar ibu anak itu tidak risau. Sungguh, sangat berbeda akibatnya dalam tindakan jika kita salah menyimpulkan.

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW berkata, “Aku mulai shalat dan ingin memanjang shalatku. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, sehingga aku pendekkan shalatku, karena aku tahu bahwa ibunya sedih mendengar tangis bayinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Qatadah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda, “Ketika shalat, aku bermaksud memanjangkan bacaan. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, lalu aku pendekkan shalatku khawatir akan memberatkan ibunya.” (Riwayat Bukhari)

Rasulullah memilih untuk memendekkan shalatnya. Bukan melarang ibu tersebut membawa anaknya ke masjid di waktu-waktu berikutnya. Sungguh, ributnya anak-anak saat kita sedang shalat jauh lebih baik daripada jauhnya hati mereka dari agama Allah yang haq ini.

Alangkah mulia Nabi, dan alangkah jauh kita yang hidup sekarang ini. Saya ingin berbicara tentang ini lebih panjang lagi, tetapi saya harus kembali pada perbincangan di awal. Bukan dinar, bukan dirham, dan bukan pula hadiah-hadiah yang membuat anak-anak bersemangat. Tetapi kedekatan hati.

Bahagiakanlah, Muliakanlah

Bahagiakanlah mereka, insya Allah di dada mereka akan ada semangat yang menyala-nyala.

Muliakanlah, insya Allah mereka akan memuliakan dan mendengar kata-kata kita.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hati diciptakan dengan karakter yang mencintai orang yang memuliakannya dan membenci orang yang menghinakannya.”

Kita bisa belajar dari nasihat Ibnu Mas’ud. Pertama, muliakanlah anak dan bahagiakan mereka, niscaya mereka akan memuliakan kita, mendengar kata-kata kita, dan mengarahkan dirinya untuk menjadi seperti “yang seharusnya”. Bagaimana seharusnya mereka, sangat berkait dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Kedua, kenalkanlah kemuliaan Allah, sifat pemurah, dan keagungan Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, insya Allah mereka akan lebih dekat hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan membebani dengan perintah-perintah untuk tunduk kepada-Nya agar mereka disayang dan doa-doa dikabulkan. Sebab, manusia cenderung memuliakan yang memuliakannya. Bukan mengagungkan kepada yang membalasi kebaikannya.

Bukankah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Menciptakan dan Yang Maha Pemurah pada firman-Nya yang pertama kali turun? “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

Alhasil, ketika anak-anak kita ajari berdoa, mereka yakin bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sia-sia berdoa kepada Yang Maha Baik. Justru karena mengetahui Allah Maha Pemurah, insya Allah mereka lebih sungguh-sungguh berharap dan meminta.

Sayangnya, selama ini kita lebih sering memperkenalkan Allah dengan cara yang menyeramkan. Kita ajari mereka berbuat baik dan berdoa seolah-olah Allah tidak akan menurunkan rahmat dan nikmat-Nya kecuali setelah kita berbuat baik. Lalu, bagaimana mungkin kita berharap mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bersungguh-sungguh mengelola hidupnya jika cara awal kita sudah salah?

Astaghfirullahal-‘adziim. Agaknya, banyak sekali kesalahan yang kita lakukan terhadap anak-anak. Agaknya kita perlu meminta keikhlasan mereka untuk memaafkan dan memperbaiki cara kita mendidik, agar kelak mereka tak menyesal mempunyai orangtua seperti kita.

Waktu, Bukan Uang!

Saya teringat ucapan Garry Martin dan Grayson Osborne. Psikolog dan penulis buku Psychology Adjustment and Everyday Living ini berkata, “Manfaatkanlah waktu yang ada. Pertama, janganlah mempunyai anak bila Anda tidak punya waktu untuk mereka. Kedua, jika Anda punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Inilah waktu untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil yang Anda setujui dari tingkah laku anak-anak Anda. Jauh lebih baik lagi jika Anda memberikan dukungan itu segera ketika hal-hal kecil itu terjadi.”

Ya......, waktu! Bukan uang. Bukan benda-benda. Waktu untuk memberi perhatian, berbincang bersama, memberi kehangatan, bercanda, waktu untuk menyampaikan pesan dengan cara yang bersahabat dan penuh kehangatan, serta waktu untuk bermain dan bersujud bersama.

Inilah yang diberikan oleh Rasulullah kepada anak-anak. Rasulullah bercanda, bermain kuda-kudaan, dan memberi julukan-julukan yang baik kepada anak. Inilah yang membuat anak-anak di masa itu tumbuh sebagai pribadi penuh percaya diri dan bersemangat tinggi.

Selebihnya, kita bisa memberikan hadiah kepada anak-anak bukan sebagai perangsang agar berbuat baik, melainkan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Ini berarti menuntut cinta tanpa syarat. Kita berikan hadiah kepada anak-anak secara adil dan merata, sehingga mereka merasakan betapa orangtuanya sangat pemurah dan memuliakan. Kita beri hadiah karena mencintainya, bukan imbalan atas apa yang mereka kerjakan.

Jika kita berikan hadiah karena mereka berbuat baik, lalu mana yang menunjukkan tulusnya cinta kita kepada mereka? Atas dasar apa kita menuntut yang lebih dari mereka? Bukankah pemberian kita merupakan harga yang pas atas tindakan mereka?

Astaghfirullahal-‘adziim. Alangkah banyak kekeliruan kita. Alangkah sedikit ilmu yang kita siapkan untuk membangun satu generasi. Padahal dari generasi itu, barangkali akan menentukan karakter generasi berikutnya hingga beratus tahun sesudah kita tiada.

 Ya Allah, ampunilah kami yang tak memiliki bekal apa-apa untuk menjadi orangtua.

 Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dengan memberikan kemuliaan kepada mereka.

Nak, maafkanlah bapakmu ini. Bersabarlah atas kebodohan dan kezhaliman orangtua kalian. Semoga kelak Allah meninggikan derajatmu dan memuliakanmu dengan surga-Nya yang tertinggi. Allahumma amin.