Senin, 19 Juli 2010

90 Langkah Menuju Musholla

Penulis : Abi Sabila

Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jama'ah di mushala Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushala, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun di mataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.

Pertama, beliau ini aktif shalat berjama'ah di mushala Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jama'ah yang pertama hadir untuk shalat Shubuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan shalawat dari pengeras suara mushala yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan adzan shubuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya itu? Tidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.

Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar, sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jama'ah mushala sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘eksklusif’ Pak Didi.

Saat datang untuk shalat maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai shalat maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada di tempatnya, berdzikir, dan mendengarkan jama'ah lain mengaji. Usai shalat isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushala.

Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushala untuk shalat shubuh ketika belum satupun jama'ah lainnya hadir di mushala ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushala, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan shalawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushala.

Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushala, membangunkan warga sekitar untuk shalat shubuh berjama'ah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?

Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.
“Selama ini, untuk shalat shubuh saya lebih sering datang ke mushala sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum shubuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang.”
“Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset, atau maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.
“Insya Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri,“ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukan rasa tersinggung sedikit pun atas pertanyaanku.
“Maksudnya, hitungan bagaimana, Pak?” aku makin penasaran.

Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushala ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset ke dalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang (termasuk aku) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushala. Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada disepanjang jalan menuju mushala.

Pertama, beliau ke luar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok ke arah kanan, maju 10 langkah, dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushala dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushala, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushala.

Begitulah, setiap pagi disaat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushala dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu, tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushala, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan shalawat atau mengumandangkan adzan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan shalawat dan adzan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!

Aku tertegun mendengar cerita pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqamah mendatangi jama'ah shalat shubuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.

Terima kasih, pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushala, shalat berjama'ah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu.

Minggu, 18 Juli 2010

Dapatkah Kita Menjadi Lebih Sabar?

Artikel ini cukup relevan dengan kondisi saat ini. Tadi pagi waktu saya sarapan di warung sebelah kantor, saya dengar keluhan Si Pemilik Warung tentang kenaikan harga bahan-bahan pokok, akan tetapi sangat tidak mudah untuk menaikkan harga sepiring hidangan sarapannya oleh karena Si Pembeli pun mengeluhkan hal serupa. Sepertinya sistem ekonomi kapitalis menunjukkan kelemahannya sendiri, dan sayangnya pemerintah kita malah mengandalkan sistem ekonomi ini untuk mengurangi "beban-beban" pikiran dan pekerjaannya. Notabene sistem ekonomi ini lebih banyak diserahkan mekanisme pasar.

Selamat menyimak artikel ini... semoga bermanfaat, dan semoga ini jadi pelecut kita untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar kita khususnya dan bangsa ini pada umumnya...

dikutip dari Eramuslim.com
 
Ternyata dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) mempunyai efek yang sangat luas bagi masyarakat. Bukan hanya adanya kenaikan harga-harga kebutuhan bahan pokok, tetapi juga merosot tingkat daya beli masyarakat, serta inflasi yang menggerogoti kemampuan masyarakat secara luas. Rakyat tidak banyak mempunyai pilihan atas keputusan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) ini.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Assosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, kenaikan TDL, sangat memukul para pengusaha, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM). Di mana awalnya antara pengusaha dan pemerintah menyepakati kenaikan TDL kisarannya hanyalah 10-15 persen, tetapi kenyataannya antara 11-80 persen. Dampak kenaikan TDL ini akan semakin membebani kehidupan para pekerja, petani, nelayan, dan masyarakat dengan penghasilan yang kecil (marginal). Mereka akan semakin terpuruk dengan kenaikan TDL ini. 

Penghasilan buruh, yang rata dibawah Rp 1, 500.000 itu, pasti tidak akan dapat menghadapi berbagai kenaikan harga, yang merupakan akibat dari kenaikan TDL. Rata-rata para pekerja di pabrik, para buruh tani, nelayan, dan masyarakat marginal, hidupnya akan semakin tergerus dengan adanya keputusan pemerintah yang menaikkan TDL. Keputusan yang sudah disepakati antara pemerintah dengan DPR. Inilah sebuah malapetaka bagi kehidupan rakyat, yang terus menerus di dera dengan kenaikan-kenaikan. 

Selain adanya kenaikan TDL ini, sebentar lagi, pemerintah juga akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang tujuannya untukmengurangi subsidi. Pemerintah bertujuan mengurangi subsidi secara drastis. Karena, subsidi bertentangan dengan konsep ekonomi kapitalis. Dengan kenaikan BBM ini, lebih-lebih akan semakin terpuruknya kehidupan rakyat secara luas. Mereka akan semakin tidak mampu menghadapi tingkat hidup dengan beban, yang semakin berat.

Tentu, skenario yang paling buruk adalah kemungkinan banyaknya perusahaan yang bangkrut, akibat dari kenaikan TDL dan BBM,yang dampaknya akan terjadi PHK terhadap jutaan kaum buruh, yang sekarang ini menggantungkan hidup mereka bekerja di sektor perusahaan. Sementara itu, perusahaan yang ada terpukul akibat kenaikan TDL yang sudah berlangsung sejak 12 Juli lalu.

Pemerintah belum dapat mengurangi pengangguran yang setiap tahunnya, angka-angka pengangguran terus bertambah, dan ditambah dengan adanya kondisi perusahaan yang ada mengalami kebangkrutan dan kemudian menutup usaha mereka. Pasti ini akan mengakibatkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akan dilakukan perusahaan. Sebuah skenario yang sangat buruk bagi kehidupan bangsa Indonesia dan masa depan mereka.

Di bulan Juli dan Agustus ini, para orang tua, juga dihadapkan tahun ajaran baru di semua tingkatan, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara itu, para orang tua, yang dari kalangan marginal, jangankan memikirkan biaya sekolah, menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan hidup sehari-hari mereka sudah sangat pahit. Tidak mungkin mereka dapat menjalani kehidupan mereka. Termasuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka dengan kondisi ini. Mereka akan semakin jauh dari harapan untuk dapat hidup layak, dan dapat memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka, karena kondisi yang mereka hadapi akibat kebijakan pemerintah terus mereduksi (menggeroroti) kemampuan mereka untuk dapat bertahan hidup. Semakin hari seperti seakan-akan pemerintah ini sudah tidak mampu melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Jumlah orang miskin yang berhasil diangkat menjadi nol, karena munculnya orang miskin baru, yang jumlahnya jauh lebih besar lagi. Semuanya itu karena adanya kenaikan harga-harga, yang pemerintah tindak dapat mengendalikannya. Semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar, dan pemerintah tidak mampu melakukan interv ensi. Inilah hukum pasar,yang menjadi ‘credo’ (aqidah) ekonomi kapitalis. Semuanya diserahkan kepada pasar. Karena itu, yang akan menikmati dari kebangkrutan rakyat miskin, tak lain kaum pemilik modal, yang semakin kaya,karena mereka menguasai jaringan ekonomi, yang sudah menjadi sebuah kartel.

Seharusnya Indonesia sudah memiliki sistem jaminan sosial yang dapat melindungi kelompok masyarakat miskin. Seperti bantuan bagi kaum miskin, para penganggur, pensiunan, dan jaminan kesehatan. 

Dan, berdasarkan konstitusi mengeyahkan kemiskinan itu, merupakan tujuan dari kemerdekaan. Kenyataannya sejak Indonesia merdeka, tahun 1945, hingga kini, bukan semakin baik, hakikat kehidupan rakyat Indonesia, tetapi semakin jauh dari cita-cita yang ingin diwujudkan sebagai sebuah entitas bangsa yang merdeka dan berdaulat. Masih dapatkah kita bersabar? Wallahu’alam.

Jumat, 04 Juni 2010

Surat Terakhir Santi Sebelum Diserbu Israel

Santi Soekanto adalah salah satu dari 12 WNI di kapal Mavi Marmara yang diserbu Israel. Sebelum penyerbuan itu, Santi sempat mengirimkan surat elektronik yang sangat menyentuh.

Surat jurnalis Majalah Hidayatullah ini bertajuk “Gaza Tidak Membutuhkanmu!” yang dikirim pada Minggu 30 Mei 2010, atau sehari sebelum serangan Israel. Surat ini dibuat di atas kapal Mavi Marmara saat masih berada di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Saat itu, Santi dan anggota tim Freedom Flotilla lain tengah menunggu kedatangan tim lain untuk nanti sama-sama berangkat ke Gaza. Namun kabar akan serangan Israel sudah beredar.
“Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran,” kata Santi dalam pembukaan suratnya.

Santi berbagi pengalamannya bertemu dengan ratusan orang dengan berbagai latar belakang. Masing-masing dengan gayanya sendiri. Ada anak buah politisi Inggris yang petantang-petenteng, sampai aktivis perempuan muslimah yang pendiam, namun cekatan untuk memastikan semua rombongan bisa makan tepat waktu. Berikut adalah surat lengkap Santi untuk temannya Tommy Satryatomo yang kemudian dipasang di blognya:

GAZA TIDAK MEMBUTUHKANMU!

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu –banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis –terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya– mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada begitu banyak activism, heroism. Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidakikhlasan dan riya? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?
…Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini…
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya. Dari para ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.
Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
…Gaza tidak membutuhkan aku. Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds….
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak -betapa pun sedikitnya- menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha. Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.
…Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku…
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung-jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin –sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air– lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram.
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri.
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.
Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana.
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
…sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi…
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi -agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin
Allahumaj’alni minal mutatahirin
Allahumaj’alni min ibadikassalihin

Santi Soekanto,
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.

Rabu, 02 Juni 2010

Dua Pucuk Surat Dari Gaza

dari notes facebook seorang teman
 
Assalamu'alaikum saudara...! teman dan sahabat, bukan karena ikutan latah dengan adanya berita hangat yang membuat berang semua orang dengan adanya serangan Israel ke kapal bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina. Ini hanya sebuah literatur yang pernah kubaca di lietarur, yang semoga bisa kita maknai kembali dan membuat kita semua tergugah dalam memperjuangkan aqidah dan iman kita, amien... wassalamu'alaikum wr.wb..
 
Assalamu'alaikum Wr.wb.,

Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indoneseia...???? namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa....? mungkin satu-satunya negara yang berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini.... bukan demikian saudaraku??? disana saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika aktivitas da'wah dari Jamaah Haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, "setiap tahun musim haji, ada sekitar 205 ribu jamaah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini....


Wah sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum, lalu saya mengatakan keadanya, " saudaraku, jika jumlah jamaah haji asal Gazza sejak tahun 1987 sampai sekarang di gabung, itu belum bisa menyamai jumlah jamaah haji dari negeri kalian dalam satu musim haji saja, Padahal jarak kami tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian ya... wah... wah... pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya... Subhanallah.


Wahai saudaraku di Indonesia, pernah saya berkhayal dalam hati... kenapa saya dan kami yang ada di Gazza ini tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah... pasti sangat indah dan mengagumkan yah... Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan udah kalian dapatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.


Ini yang membuatku iri kepadamu wahai saudaraku, tidak seperti di negeri kami ini saudaraku, anak anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil... yah diatas mobil saudaraku!! susu formula bayi adalah barang yang langka di Gazza sejak kami diblokade 2 tahun lalu, namun istri-istri kami tetap menyusui bayi-bayi kami dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar ASI mereka , istri kami rela minum air rendaman gandum.


Namun mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya, terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan ditempat sampah... itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding... ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus abortusinya untuk wilayah Asia... Astagfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami di sini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut!!!.


Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini. Memang hampir setiap hari di Gazza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, namun bukanlah diselokan-selokan atau got-got apalagi ditempat sampah saudaraku!!! Mereka mati syahid saudaraku mati syahid karena serangan roket tentara Israel, kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya, dibawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara zionis israel.


Bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah yahudi mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negeri ini. Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember kemaren saudara-saudara kami yang shahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru dijalur Gazza dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah laki-laki dan banyak yang kembar... Allahu Akbar!!!.


Wahai saudaraku di Indonesia, negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar? apa karena kalian sulit mencari rizki disana? apa negeri kalian sedang diblokade juga?. Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gazza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan, walaupun lama kami sudah diblokade. Kalian terlalu manja. Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan Hamas sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT. yang mencukupi rizki untuk kami.


Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan, yah mereka menikah disela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah, diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku!. Dan perdana menteri kami, yaitu Ust. Ismail Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.


Wahai saudaraku di Indonesia terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqoh pembinaan di negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut... program pengajian kalian pasti bagus bukan...? banyak kitab yang mungkin kalian telah baca, dan buku-buku pasti kalian telah lahap, kalian pun sangat bersemangat bukan?, itu karena kalian punya waktu kami tidak memiliki waktu yang banyak dsini wahai saudaraku.


Satu jam yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh setelah itu kami baru terjun langsung ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut walau cuma satu jam saudaraku, tentu kalian lebih bersyukur kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, seperti ta'aaruf, tafaahum dan tafaakul disana.


Hafalan antum pasti lebih banyak dari pada kami, semua pegawai dan pejuang Hamas disini wajib menghafal surat al-anfal sebagai 'nyanyian perang' kami, saya menghafal disela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?


Akhir Desember kemaren, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal al-qur'an, umurnya baru 10 tahun, saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghafal alqur'an ketimbang anak-anak kami disini, di Gazza tidak ada SDIT seperti ditempat kaian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma, yah ditempat itulah mereka belajar saudaraku...


Bunyi suara setoran hafalan alqur'an mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel... ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya langsung mereka rasakan.


Wahai saudaraku di Indonesia...! Oh iya kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian di Indonesia.


Namun bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku, biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat oleh Allah sebagai bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya. Kamilah yang berterima kasih, partai kami adalah Hamas sejak berjuang melalui demokrasi sejak tahun 2006, terinspirasi oleh kemenangan partai da'wah kalian di Indonesia.


Kami tetap mengurus partai seperti yang kami belajar dari kalian, tetap membina para kader kami, dengan masyarakat dan satu lagi kami juga tetap mengangkat senjata untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina.


Kalian tidak sedang mengangkat senjata, seperti kami disini, kader kalian banyak, apalagi yang kurang dari kalian. Saya cuma bisa berdoa semoga kalian bisa memenangkan pemilu nanti... oh iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk, InsyaAllah nanti ingin saya sambung dengan surat yang lain lagi.

Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam di Indonesia.

(Akhukum Abdullah - Gazza City 1430 H).

Rabu, 31 Maret 2010

Ternyata Ka'bah Adalah Pusat Planet Bumi

Astronout Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari Planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata : “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ???”

Para Astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada masalah tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya kenapa jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877) “

Rabu, 24 Maret 2010

Amal Perbuatan Yang Memudahkan Mu'min Menyeberangi Jembatan Neraka

Sumber : Eramuslim.com

Sebagaimana sudah kita ketahui setiap Ahli Tauhid sebelum berhak mencapai pintu gerbang surga diharuskan melewati ujian berat yaitu menyeberangi jembatan yang membentang di atas Neraka Jahannam. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melukiskan jembatan itu sebagai lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Ada mereka yang sukses menyeberanginya, ada yang sukses namun terluka kena sabetan duri-duri dan besi-besi kait yang merobek sebagian anggota tubuhnya sementara ada yang gagal sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya terlebih dahulu masuk ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam.
 
وَلِجَهَنَّمَ جِسْرٌ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ عَلَيْهِ كَلَالِيبُ وَحَسَكٌ يَأْخُذُونَ مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَالنَّاسُ عَلَيْهِ كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ وَالْمَلَائِكَةُ يَقُولُونَ رَبِّ سَلِّمْ رَبِّ سَلِّمْ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَمَخْدُوشٌ مُسَلَّمٌ وَمُكَوَّرٌ فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ

“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim.” ( ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.”)  Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)

Setiap orang yang mengaku beriman sudah barang tentu berharap dirinya masuk ke dalam golongan mereka yang selamat menyeberanginya sehingga berhak masuk Surga dan dijauhkan dari azab api neraka. Namun pertanyaannya ialah bagaimana hal itu bisa tercapai? Apa syarat-syarat agar seorang Mukmin berhak menikmati kesuksesan tersebut? Sebenarnya dalam hadits lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam telah mengisyaratkan sebagian jawabannya.

 إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُؤْمِنَةٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنا فَلا يَذْكُرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8)  Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Di antara solusinya ialah seorang mukmin mesti mengupayakan agar dirinya kelak memiliki cukup cahaya agar mampu menyeberangi kegelapan dan panasnya neraka. Sebab pada saat akan menyeberangi jembatan tersebut setiap orang dibekali Allah cahaya agar mampu melihat jalan yang sedang ditelusurinya di atas jembatan tersebut. Dan bila ia termasuk mukmin sejati cahaya yang diterimanya itu akan setia menemani dan menyinari dirinya sepanjang penyeberangan itu hingga sampai ke ujung menjelang pintu surga. Namun jika ia termasuk orang yang imannya bermasalah lantaran begitu banyak dosanya, apalagi kalau ia termasuk orang munafik, maka di tengah perjalanan menyeberangi jembatan Allah tiba-tiba padamkan cahaya yang menemaninya sehingga ia dibiarkan dalam kegelapan dan akibatnya ia menjadi tersesat dan terjatuh ke dalam api neraka.

Begitu cahaya orang-orang munafik itu mendadak dipadamkan Allah, maka mereka akan berteriak panik dan memohon kepada orang-orang beriman sejati agar dibagi sebagian cahaya yang setia menemani mukmin sejati itu. Sungguh gambaran mengerikan yang dengan jelas diuraikan Allah di dalam ayat-ayat berikut ini:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آَمَنُوا
انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا
فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ
 الْعَذَابُ يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ
 أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى
جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا
مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu'min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu'min) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS Al-Hadid ayat 11-15)

Lalu apakah amal perbuatan yang akan menyebabkan seorang mukmin memiliki cukup cahaya untuk sukses menyeberangi jembatan itu? Ternyata, di antaranya ialah kesungguhan seorang mukmin untuk bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan. Inilah yang disebut dengan aktifitas Taubatan Nasuhan (Taubat Yang Murni). Taubatan Nasuha inilah yang akan menyebebkan seorang mukmin memperoleh cahaya yang disempurnakan untuk sukses menyeberangi jambatan Neraka. Bukan taubat musiman alias taubat yang tidak menyebabkan seseorang benar-benar meninggalkan perbuatan dosa yang dilakukannya. Perhatikanlah ayat Allah berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan Nasuhantaubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At-Tahrim ayat 8) 

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, beliau bersabda: ”Shirath itu setajam pedang dan sangat menggelincirkan.” Beliau melanjutkan: ”Lalu mereka melintas sesuai dengan cahaya yang mereka miliki. Maka di antara mereka ada yang melintas secepat meteor,  ada pula yang melintas secepat kedipan mata, ada pula yang melintas secepat angin, ada pula yang melintas seperti orang berlari, dan ada pula yang berjalan dengan cepat. Mereka melintas sesuai amal perbuatan mereka, hingga tibalah saat orang yang cahayanya ada di jari jempol kedua kakinya melintas, satu tangannya jatuh, dan satu tangannya lagi menggantung, satu kakinya jatuh dan satu kakinya lagi menggantung, kedua sisinya terkena api neraka.”

Kedua, seorang Mukmin akan dijamin memiliki cukup cahaya saat menyeberangi jembatan di atas Neraka jika ia rajin berjalan ke masjid dalam kegelapan untuk menegakkan sholat wajibnya semata ingin meraih keridhaan Allah. Nabi bersabda:

بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah 773)
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam seringkali ketika berjalan menuju ke masjid berdoa dengan doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا
 وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِ
 نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

“Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di sebelah kananku, di sebelah kiriku, di sebelah atasku, di sebelah bawahku, di depanku, di belakangku dan jadikanlah aku bercahaya.” (HR Bukhary 5841)

Ketiga, seorang Mukmin akan sukses menyeberangi jembatan neraka bila ia melindungi sesama mukmin dari kejahatan orang Munafik. Dan sebaliknya barangsiapa yang mengucapkan perkataan buruk untuk mencemarkan seorang Muslim, maka Allah akan menghukumnya dalam bentuk ia ditahan di atas jembatan neraka hingga dosa ucapannya menjadi bersih.  

مَنْ حَمَى مُؤْمِنًا مِنْ مُنَافِقٍ أُرَاهُ قَالَ بَعَثَ اللَّهُ مَلَكًا يَحْمِي
 لَحْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَمَنْ رَمَى مُسْلِمًا بِشَيْءٍ يُرِيدُ
 شَيْنَهُ بِهِ حَبَسَهُ اللَّهُ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

“Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat- dari neraka jahannam. Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya.” (HR Abu Dawud 4239) 

Saudaraku, sungguh kita semua sangat membutuhkan cahaya yang mencukupi untuk menyeberangi jembatan neraka dengan selamat. Semoga Allah masukkan kita bersama ke dalam golongan Mukmin sejati. Semoga Allah bersihkan hati kita bersama dari penyakit kemunafikan. Sebab kemunafikan akan menyebabkan cahaya seseorang tiba-tiba padam saat menyeberangi jembatan neraka sehingga ia menjadi  tergelincir lalu jatuh ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Na’udzubillahi min dzalika...!

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاق وَ اَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاء وَ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِب وَ أَعْيُنَنَا مِنَ الخِْيَانَة إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُن وَ مَا تُخْفِ الصُّدُور

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.

Senin, 22 Maret 2010

Almost 40 (years Old)


Oleh Lizsa Anggraeny

"Wuih... Cemilan seleb mah emang lain ya...!"

Komentar bercanda yang dilontarkan seorang sahabat sambil tersenyum. Saat melihat saya asyik melahap apel merah, di sela hidangan 'snack' jeda rapat organisasi. Yang kemudian saya timpali dengan bercanda pula.


"Inget umur, bentar lagi 40, biar nggak cepat menopause...rapuh" Yang kemudian komentar saya ini ditanggapi serius oleh sahabat lain di samping. "Betul! Sering-sering makan tahu, tempe, biar tetap awet muda..."


Beginilah ibu-ibu. Jika sudah berkumpul, tak cuma silaturahim. Bagi-bagi resep masakan, curhat tentang anak-anak ataupun bagi-bagi tips biar tetap segar, cantik plus awet muda kadang menjadi selingan.


***


Almost 40 years old,

Jika Allah Ta`ala mengizinkan, Insya Allah tak lama lagi saya akan menginjak usia kepala empat. Usia yang menurut beberapa orang merupakan usia rentan bagi seorang perempuan. Usia transisi dari masa muda menjelang tua. Dimana akan mulai terjadi proses penurunan fungsi hormonal, fisik serta penampilan. "Harus mulai jaga badan..." Terlintas kembali ucapan seorang sahabat saat membahas usia.

Renungan mulai berjalan. Apa yang akan disiapkan jelang usia 40? Kesehatan? Sudah pasti. Makanan? Tentu saja. Penampilan fisik? Hhmm... Saya begitu bersyukur. Di usia sekarang, orang-orang sering terkecoh. Menganggap usia saya berkisar 25-an atau paling banter 28 tahunan. Terlebih dengan adanya si kecil yang baru menginjak usia 1 tahunan. Tak ada yang menyangka saya akan masuk ke angka kepala empat.


Lalu, renungan mulai melompat ke masa lalu. Mengingat pergantian waktu yang pernah terlewati, dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga usia saat ini. Ada masa remaja, pubertas, wanita karir, menikah, lalu menjadi ibu rumah tangga. Ada beberapa jeda masa lalu yang kadang membuat saya mentertawakan diri sendiri entah karena dianggap lucu, konyol atau nyinyir. Ada pula jeda yang membuat saya terdiam kelu saat mengenang beberapa teman yang telah mendahului di usia yang terbilang muda. Serta ada pula jeda yang membuat saya tertunduk malu hingga berlinang air mata, mengingat beberapa dosa,khilaf dan kesalahan yang telah diperbuat.


Jaga badan, makanan, fisik, olah raga teratur. Persiapan secara 'duniawi' rasanya sudah mantap. Lalu, bagaimana dengan persiapan ukhrawi? Berapa surat hapalan Qur`an yang telah diingat? Amal sholeh apa yang telah ditabung secara rutin? Sudahkah mempersiapkan bekal dengan rapi untuk perjalanan 'terkahir' jika saatnya tiba? Adakah amal-amal yang disangka baik ternyata di mata Allah tak ada harganya? Apakah umur saya berujung bahagia? Sengsara? Sia-sia? Astaghfirullah... Semakin merenung semakin diri terlihat kecil dengan amalan-amalan minim.


Pikiran mulai melayang pada satu ilustrasi sederhana tentang kehidupan yang begitu menyentuh. "Hidup bagai membuka lembar demi lembar sebuah buku. Setiap lembar buku yang kita buka, ibarat satu hari yang telah dilewati. Semakin banyak lembar buku yang dibuka, semakin tipis sisa lembaran tersebut. Sampai akhirnya lembaran buku itu habis. Dan itulah ajal."


Akan saya warnai apa sisa umur yang ada? Selanjutnya, akan saya buka dengan lembaran apa sisa hidup ini?


Jelang usia 40....

Ada pesan diri terselip dalam hati. Tak perlu pesta hura-hura untuk merayakan pergantiannya. Tak perlu tiup lilin, tak perlu tumpengan beras kuning ataupun kue tart, dan takperlu "Happy Birthday to You."

Karena umur manusia tak lebih dari rangkaian waktu yang diberikan Allah. Perbedaan umur yang berikan hanya ada pada jatah hidup. Semua akan berakhir ketika maut menjemput. Tak pandang bulu, kecil-tua-muda, miskin-kaya, semua akan merasakan mati. Yang datangnya tak pernah disangka, tak pernah diduga. Dan ketika kematian datang, semua amal sudah tertutup. Semuanya telah selesai. Tak peduli sedikit apa amal yang telah kita kerjakan.


Semoga, menjelang usia tersebut, saya tak hanya bisa menjaga fisik, sebagai wujud syukur pada Sang Pencipta. Terlebih dari itu, semoga diri ini bisa membuka lembaran hidup dengan warna yang lebih baik, amalan yang lebih indah, catatan yang lebih manis.


Sebagai manusia naif, ingin rasanya dapat merampungkan buku lembaran hidup dengan nilai "Best Seller" tak hanya di mata manusia, tapi juga di hadapan Allah. Berhak menyandang gelar sertifikat kelulusan cumlaude berupa jiwa yang "Mutmainah." Serta layak mendapat royalti berupa kavling mewah di pemukiman real estate bernama "Jannatu Firdaus"
Amiin ya Rabbal`alamiin

"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada penghujungnya, dan sebaik-baiknya amalku pada akhir hayatku, dan jadikanlah sebaik-baiknya hari ketika aku bertemu dengan Mu" (H.R. Ibnu Sunny)