Rabu, 24 Juni 2009

Aku Harus Berjilbab

Sumber : Al-Mawaddah
oleh Abu Abdillah, ma'had Al-Furqon Srowo Sidayu Gresik

Sudah merupakan sunnatulloh, setiap pribadi yang mengaku sebagai orang beriman, pasti akan mengalami berbagai macam cobaan untuk menguji keimanannya.

Demikian juga aku. Aku terlahir dari sebuah keluarga yang masih awam dari pengetahuan agama. Hari-hari kulalui hanya untuk mempelajari pengetahuan umum saja, tanpa ada motivasi untuk belajar agama. Hal itu juga karena didukung kondisi keluarga yang serba kekurangan, di mana ayah hanya seorang guru yang harus membiayai kami, tujuh bersaudara yang umur kami masing-masing hanya terpaut 1 atau 2 tahun. Inilah yang akhirnya mendorong ayahku membuat sebuah doktrin yang berlaku bagi kami, anak-anaknya. Yaitu kami harus melalui masa pendidikan di sekolah negeri, tidak boleh di sekolah swasta. Sebab ayahku tidak akan mampu membiayai kami bila kami masuk ke sekolah swasta. Sehingga perhatianku terfokus hanya untuk mengejar nilai pelajaran umum, jauh dari nilai-nilai agama. Dan alhamdulillah, berkat kedisiplinan ayahku dalam mendidik putra-putrinya, kami semua bisa memenuhi harapan beliau.

Ketika aku kelas dua SMP, kakakku yang keempat, yang kuliah di sebuah PTN di Surabaya, mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan di kampusnya. Dia sering mengirim surat berupa nasihat-nasihat yang sangat berguna bagiku. Jika dia pulang kampung tuk mengambil jatah bulanan, dia juga sering membawakanku buku-buku agama. Dari sinilah cakrawala pengetahuanku tentang agama Islam mulai terbuka, yang selama ini sama sekali tidak aku kenali, walau aku berpredikat muslim sejak lahir. Aku tersadar dari kelalaianku selama ini. Dan aku bersyukur sekali karena hidayah itu mulai menerangi jiwaku yang gelap gulita.
Puncaknya, ketika kelas 3 SMP, aku mendapat hadiah sebuah buku kecil yang kalau tidak salah berjudul “Dosa-dosa Besar Yang Telah Dilupakan Umat Islam”. Pengarangnya aku sudah lupa. Isi dari buku tersebut intinya adalah perintah untuk memakai jilbab. Sejenak aku terpana dengan isi buku itu. Lembar demi lembar kupahami, tak terasa air mata mengalir membasahi pipiku. Isak tangis yang kutahan menyesakkan dadaku. Aku tersadar. Betapa hinanya diriku. Betapa bodohnya diriku dari syari’at Alloh. Karena selama ini aku belum pernah mengetahui perintah itu.

Nasihat dalam buku itu begitu memilukan hatiku. Keinginanku untuk segera memakai jilbab terasa tidak bisa lagi ditunda. Tapi kondisiku? Aku tidak punya jilbab. Aku juga tidak mampu membelinya. Karena aku hanya bisa membeli baju baru jika hari raya tiba. Itu sudah menjadi tradisi keluargaku yang memang kondisi ekonominya pas-pasan.
Dan pertolongan Alloh itu dekat. Tiba-tiba saja aku teringat… ibuku mempunyai meksi atau rok panjang dan kerudung segitiga kecil yang biasa dipakai untuk menghadiri pengajian di desaku, yang itu pun jarang ada. Sehingga meksi dan kerudung itu jarang sekali dipakai oleh ibuku. Aku berusaha merayu ibuku agar pakaian itu boleh kupakai. Alhamdulillah akhirnya ibuku mengizinkannya. Sulit dibayangkan, anak kelas 3 SMP memakai rok ibunya. Tentu sangat aneh dan lucu. Aku harus memberinya peniti agar rok itu tidak ‘melorot’. Walau begitu, aku merasa sangat bersyukur. Aku telah bisa menjalankan perintah Alloh.
Bismillah. Hari itu kumantapkan diri mulai memakai jilbab seadanya. (Walau sebetulnya belum bisa disebut jilbab, tapi pemahamanku saat itu [th 1988], aku sudah melaksanakan perintah Alloh untuk memakai jilbab). Ternyata, apa yang terjadi? Ujian demi ujian mulai menimpaku.

Ketika aku keluar dari rumahku, banyak sekali komentar-komentar yang aku tak tahan mendengarnya, bahkan begitu menyakitkan hatiku. Cibiran-cibiran serta ejekan datang bertubi-tubi dari sana-sini. Aku memaklumi, memang waktu itu masih sangat jarang orang yang memakai jilbab. Maka aku hanya bisa berdo’a agar aku tetap teguh dalam pendirianku.

Hari-hari kulalui bersama jilbab ala kadarnya sampai tibalah hari yang sangat membahagiakanku. Ketika menjelang lebaran, aku boleh membuat baju yang menutup aurat dan jilbabnya yang lebih besar dan lebih memadai dari pada yang pernah kupakai sebelumnya. Alhamdulillah. Tapi perjuanganku mempertahankan mahkotaku belumlah selesai.

Ketika aku lulus SMP, alhamdulillah aku diterima di SMA Negeri favorit yang ada di kabupatenku. Jaraknya agak jauh dari rumahku, sehingga aku harus indekos. Sejak awal masuk aku sudah siapkan seragam berupa rok dan baju atasan yang agak panjang, yaitu ukuran ¾. Dan untuk menutupi sisa kakiku yang masih kelihatan, aku memakai kaos kaki yang panjang. Saat itu belum ada siswi yang berjilbab satu pun, termasuk di sekolah baruku. Aku belum berani memakai jilbab di sekolah baruku. Keadaan ini begitu menyiksa batinku. Ketika setiap anak harus mengikuti extra kurikuler, aku langsung mengambil extra kerohanian sebagai pilihanku. Dan gayung bersambut, ruhaniku yang haus segera mendapat siraman yang menyejukkan hatiku. Banyak ilmu agama yang kudapat dari kegiatan extra tersebut. Apalagi ketika tawaran kakakku yang siap mengajak teman-temannya mengisi kajian di kegiatan extra diterima sepenuhnya oleh sie kerohanian. Maka, kami merasa ilmu dan iman kami menjadi semakin mantap. Kami menjadi lebih bersemangat untuk menjalankan syari’at-syari’at Alloh yang telah kami pelajari, salah satunya ialah berjilbab. Ujian pun kembali menghadang jalan perjuanganku.

Kami digelari sebagai kelompok ekstrem karena kami tidak mau berjabat tangan dengan pelajar putra. Tapi, ejekan demi ejekan hanya kami tanggapi dengan berusaha untuk tetap bersabar dalam menjalankan perintah Alloh. Sampai akhirnya, alhamdulillah, mulai bermunculan teman-temanku yang memakai jilbab. Aku senang sekali karena mempunyai teman-teman yang se-akidah, yang bisa aku jadikan tempat untuk saling menasihati sehingga iman ini tidak mudah luntur.
Hari demi hari seiring dengan keaktifan kami mengaji, kami semakin paham tentang arti pentingnya memakai jilbab. Wanita yang tidak memakai jilbab tidak akan mendapatkan bau surga walau dari jarak perjalanan yang sangat jauh. Hal ini menjadikan kami makin tidak betah dengan keadaan kami yang selalu bongkar pasang jilbab yang tidak pada tempat dan waktunya. Akhirnya, dengan mendapat dukungan dari para ikhwan teman-teman ngaji, kami para ‘jilbaber’ memutuskan untuk memakai jilbab di sekolah, apapun akibatnya. Kami sudah siap menghadapi ujian apapun, walau mungkin nanti kami akan dikeluarkan dari sekolah sekalipun. Hasbunallah wani’mal wakil (cukuplah Alloh yang menjadi sebaik-baik wakil kami) selalu menjadi motto kami. Perjuangan kami semakin gigih. Kami berjuang bagaikan prajurit yang menghadapi musuh yang siap menghadang. Dan… ternyata benar-benar keimanan kami diuji oleh Alloh untuk yang kesekian kalinya. Sungguh benar, Alloh tidak akan membiarkan kami mengatakan beriman sebelum menguji kami dengan berbagai macam ujian. Alloh Subhanallohu wa Ta'ala berfirman:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. al-Ankabut [29]: 2).
Ujian apa lagi yang menghadang perjuangan Ukhti kita dalam memperjuangkan mahkotanya? Silakan simak kelanjutan penuturannya di edisi mendatang insya Alloh Ta'ala.

Aktor di Balik Kerusuhan Iran

sumber : swaramuslim

Majalah Schweizmagazin bahasa Jerman dalam makalahnya yang berjudul “Iran: Amerika Kontrol Kerusuhan" yang disana juga terpampang foto Barack Obama sedang menyulut api peta Iran, adalah salah satu bukti keterlibatan langsung Gedung Putih dengan kerusuhan akhir di Teheran.


Dalam makalah tersebut juga menyebutkan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh Gedung Putih untuk membiayai kerusuhan di Teheran. Dikatakan jumlah uang yang digelontorkan sejak jaman pemerintahan Bush hingga kini mencapai 85 juta US dolar dan bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Ahmadinejad. Selain sejumlah uang, Amerika juga mendirikan sejumlah setasiun radio berbahasa Persia diantaranya adalah Radio Farda.

Oleh karena itu tidak mengherankan jika kemenangan Ahmadinejad dalam pemilu kali ini disambut dengan cemohan dan hasutan dari Washinton DC.

Menjelang pemilu pun media massa Barat terutama BBC gencar memberitakan jika situs jejaring Facebook dan Twiter di Negeri Mullah itu telah diblok oleh pemerintah Iran. Padahal satu hari setelah pemilu Situs jejaring itu bisa di akses di Iran.

Dalam makalah itu juga tertulis jika Amerika mempunyai kepentingan besar di Iran. Amerika ingin mengontrol minyak Iran dari dalam seperti negara Irak yang telah digagahi oleh Amerika.

Kontrol minyak Iran memang penting bagi Amerika namun hal yang lebih penting dari itu adalah menghentikan program reaktor nuklir Iran. Oleh karena itu jika kontrol pemerintah Iran dipegang oleh Mousavi, maka setidaknya untuk empat tahun kedepan Iran akan menghentikan operasi reaktor nuklirnya. Selain itu, dukungan Iran terhadap bangsa tertindas Palestina juga akan melemah. Meskipun Mousavi tetap akan memihak Palestina namun, opsi yang ditawarkan oleh Obama untuk membagi dua negara Palestina dan Israel kemungkinan besar diterima oleh Mousavi.

Tidak hanya itu, dukungan Iran terhadap Hizbullah lebanon pun akan berbeda jika Mousavi terpilih menjadi presiden.

Disinilah kecerdikan pemerintahan Obama, dia memehami betul bahwa permasalahn di Timur Tengah dan dunia semuanya akan selesai jika Iran runtuh. Dan proyek untuk menjadikan pemerintah Saudi Arabia sebagai kiblat negera muslimin akan terealisasi (adil)

Khamenei Tuding Media Asing Terlibat Kekacaun Iran

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, mengimbau rakyat agar bersatu mendukung Ahmadinejad. Ia juga menuding ada keterlibatan asing

Khamenei menuding media asing dan negara-negara Barat mencoba menciptakan keretakan politik dan memicu kerusuhan di Iran.

Dalam khotbah sholat Jumat (19/6), di Universitas Teheran yang dihadiri puluhan ribu orang, Khamenei dengan keras memperingatkan para pendukung oposisi agar menghentikan protes menentang hasil pemilihan presiden minggu lalu yang menyatakan Ahmadinejad sebagai pemenangnya.

Menurut Khameni, mustahil pemilihan itu curang. Ia memperingatkan para pendukung oposisi mengenai akibat yang tidak diinginkan kalau rencana demonstrasi hari Sabtu ini jadi dilaksanakan.

”Beberapa musuh kita di beberapa bagian dunia berniat menggambarkan kemenangan mutlak ini sebagai kemenangan yang meragukan. Ini kemenangan kalian. Mereka tidak bisa memanipulasinya,” ujarnya.

Badan tertinggi pemerintahan Iran, Dewan Wali, hari ini akan bertemu dengan ketiga calon presiden yang kalah, tapi jelas tidak ada peluang hasil pemilihan tadi akan dinyatakan batal.

Sebagaimana diketahui, selama hampir sepekan terakhir, ratusan ribu pendukung Mousavi turun ke jalan-jalan di kota Teheran dan kota-kota lain memprotes hasil pemilu yang dimenangi Ahmadinejad.

Dalam pidatonya, Khamenei mengatakan, selisih 11 juta suara yang membedakan perolehan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dengan lawan terdekatnya, Mir Hossein Mousavi, membuktikan kecurangan tidak terjadi.

”Jika perbedaannya 100.000 atau 500.000 atau 1 juta, mungkin bisa dikatakan ada kecurangan. Akan tetapi, bagaimana bisa mencurangi 11 juta suara,” kata Khamenei.

Umumnya, reaksi penolakan hasil pemilu Iran terjadi di negara-negara prodemokrasi di Barat. Sedang Negara-negara berpenduduk Muslim mengakui kemenangan Ahmadinejad. [irb/afp/bbc/hidayatullah]

Rabu, 06 Mei 2009

Bahaya Ghibah

Banyak hal yang harus kita waspadai dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kaitannya dengan hablumminallah maupun hablumminannas. Ada banyak hal yang mengalir secara sadar maupun tidak yang merupakan perbuatan dosa. Dalam hubungannya dengan amalan ibadah (hablumminallah) kita akan dekat sekali dengan riya' dan bid'ah, sedangkan hubungannya dengan amalan muammalah kita dekat sekali dengan sombong, dengki, dan juga ghibah. Akhir-akhir ini ghibah menjadi sesuatu yang dilegalkan, seperti kita lihat acara-acara gosip di televisi maupun media lainnya, padahal jika kita mengetahui dosa ghibah merupakan dosa berantai yang cukup berat.

Oleh Al-Ustadz Abu Qotadah
dikutip dari Majalah Al-Mawaddah

Al-Qur’an telah menyebutkan larangan ghibah dan menyerupakan pelakunya dengan pemakan bangkai saudaranya. Alloh berfirman:


"… dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hujurot [49]: 12)
Dalam hadits disebutkan bahwa Rosululloh bersabda:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ....
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram atas diri kalian.” (HR. Bukhori-Muslim)

Dari Abu Barzah al-Aslami , dia berkata: Rosululloh bersabda:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْـمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِيْ بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya sedangkan iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Alloh akan mencari-cari aib dirinya, dan siapa yang Alloh mencari-cari aib dirinya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya sekalipun dia bersembunyi di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad dan al-Baghowi)

Dalam hadits lain disebutkan:
الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَزْنِيْ فَيَتُوْبُ فَيَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِ وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيْبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَهَا لَهُ صَاحِبُهُ
“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Alloh, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Makna Ghibah
Ghibah di sini ialah engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyangkut kekurangan pada badannya, seperti penglihatannya yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya yang botak, badannya yang tinggi, badannya yang pendek, dan lain-lainnya, atau yang menyangkut nasabnya, seperti perkataanmu: “Ayahnya berasal dari rakyat jelata, ayahnya orang India, orang fasik”, dan lain-lainnya, atau yang menyangkut akhlaqnya, seperti perkataanmu: “Dia akhlaqnya buruk dan orangnya sombong”, atau yang menyangkut pakaiannya, seperti perkataanmu: “Pakaiannya longgar, lengan bajunya terlalu lebar”, dan lain-lainnya. Juga maksud-maksud untuk mencela, entah dengan perkataan atau lainnya, seperti kedipan mata, isyarat, ataupun tulisan.

Dalil yang menguatkan hal ini ialah hadits berikut, yaitu saat Nabi bertanya tentang ghibah dalam sabda beliau:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Apakah kalian tahu apa itu ghibah?” Maka mereka menjawab: “Alloh dan rosul-Nya yang lebih tahu.” Maka beliau bersabda: “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” Mereka bertanya lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudaraku itu memang ada yang seperti kataku, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah meng-ghibah-nya, dan jika pada dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah berdusta tentangnya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Ketahuilah bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan dia tidak lepas dari dosa seperti dosa orang yang meng-ghibah. Kecuali jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkannya kepada pembicaraan masalah lain, maka hendaklah dia melakukannya.

Diriwayatkan dari Nabi , beliau bersabda:
مَنْ أُذِلَّ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْصُرَهُ أَذَلَّهُ اللهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Barangsiapa ada orang mu’min yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya namun tidak melakukannya, maka Alloh menghinakannya di hadapan banyak orang kelak pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Beliau juga bersabda:
مَنْ حَمَى مُؤْمِنًا مِنْ مُنَافِقٍ أُرَاهُ قَالَ بَعَثَ اللّٰـهُ مَلَكًا يَحْمِي لَحْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ


“Barangsiapa membela seorang mu’min dari orang munafik yang mengunjingnya, maka Alloh mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, al-Baghowi, dan Ibnul Mubarok)

Sebab-sebab yang Mendorong Ghibah
1. Hendak mencairkan amarah. Disebabkan ada seseorang yang membuat sesuatu terhadap dirinya yang membuatnya marah, untuk mencairkan amarahnya maka dia pun menggunjing orang tersebut.

2. Menyesuaikan diri dengan teman-teman, menjaga keharmonisan, dan karena hendak membantu mereka. Jika mereka mengusik kehormatan seseorang, lalu dia mengingkari perbuatan mereka atau memotong perkataan mereka, tentu mereka tidak mau menerimanya dan akan menghindarinya. Karena itu dia perlu ikut-ikutan dalam perbuatan mereka dan membantu mereka demi menjaga hubungan baik dengan mereka.

3. Ingin mengangkat diri sendiri dengan cara menjelek-jelekan orang lain. Dia berkata: “Fulan itu bodoh, pemahamannya dangkal”, atau lainnya, yang dimaksudkan untuk menguatkan posisi dan kelebihan dirinya serta memperlihatkan dirinya yang seakan-akan lebih pintar dari orang yang dimaksud. Begitu pula tindakannya yang dipicu rasa dengki, dengan memuji seseorang dan menjatuhkan saingannya.

4. Untuk canda dan lelucon. Dia menyebutkan seseorang dengan maksud untuk membuat orang-orang menertawakan orang tersebut. Bahkan banyak orang yang mencari penghidupannya dengan cara ini.

Cara Pengobatan
Ghibah Adapun cara mengobati penyakit ghibah ialah dengan menyadarkan orang yang meng-ghibah, bahwa perbuatannya itu memancing kemurkaan Alloh, kebaikan-kebaikannya akan berpindah kepada orang yang di-ghibah, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang yang di-ghibah akan dipindahkan kepada dirinya. Siapa yang menyadari hal ini, tentu lidahnya tidak akan berani mengucapkan ghibah.

Abu Huroiroh meriwayatkan dari Nabi bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ


“Siapa yang melakukan suatu kezholiman terhadap saudaranya pada harta atau kehormatannya, maka hendaklah dia menemuinya dan meminta maaf kepadanya, sebelum dia dihukum, sementara dia tidak mempunyai dirham maupun dinar, jika dia memiliki berbagai kebaikan, maka kebaikan-kebaikannya itu akan diambil lalu diberikan kepada saudaranya itu. Jika tidak, maka sebagian keburukan-keburukan saudaranya itu diambil dan diberikan kepadanya.” (HR. Bukhori)

Jika terlintas dalam pikiran untuk melakukan ghibah, maka hendaklah dia melakukan introspeksi dengan melihat aib sendiri lalu berusaha untuk memperbaikinya. Mestinya dia merasa malu jika dia mengungkap aib orang lain, sementara dirinya sendiri penuh aib.

Untuk mengobati keinginan menjaga pergaulan dengan teman-teman yang meng-ghibah, maka dia harus tahu bahwa Alloh murka kepada siapa yang mencari keridhoan manusia dengan sesuatu yang membuat Alloh murka. Yang harus dia lakukan ialah menasihati teman-temannya. Wallohu A’lam.

Rabu, 29 April 2009

Senantiasa Harmonis dengan Musyawarah

diambil dari majalah Al-Mawaddah

Banyak masalah yang sebenarnya bukan masalah. Namun bagaimana memecahkan masalah itulah hakikat masalahnya. Karena untuk mempertahankan hidup mesti akan selalu berhadapan dengan masalah. Hanya saja, tingkat keruwetan dan berat ringannya permasalahn setiap diri itu berbeda-beda. Dan yang paling baik di antara individu yang hidup dan bermasalah ialah yang paling baik dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya.

Sandungan Pasutri Muda
Dunia pasutri muda merupakan dunia yang juga tak lepas dari masalah. Justru terkadang masalah itu makin lama makin serius sebab saat ini mereka sedang hidup berdua, tidak lagi sendiri-sendiri. Sesungguhnya status mereka ini bukan sebab timbulnya masalah yang makin serius. Justru sebaliknya, dengan berumah tangga sesungguhnya seorang istri telah menemukan orang yang begitu dekat hubungannya dengannya yang siap bersama-sama memecahkan masalah dalam rumah tangganya. Namun kenyataannya memang lain. Banyak pasutri muda yang tidak mendapati anugerah tersebut.

Tatkala pasutri telah menjalani kehidupan berumah tangga, dimana keduanya memiliki profesi yang bisa jadi sama atau berbeda, dan juga karir yang menjanjikan perbaikan ekonomi keluarga, tak jarang akan berjalan mulus begitu saja tanpa masalah. Bila si istri tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi berkarir demi anak yang sesaat lagi akan dilahirkannya, misalnya, lalu ia memilih menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus pengasuh serta pendidik bagi anak suaminya; hal ini biasa saja memantik masalah baru. Dan dia tidak pernah menduga bahwa apa yang dia lakukan akan menimbulkan masalah bagi diri suaminya.

Sebabnya ialah karena si istri tidak bermusyawarah terlebih dahulu dengan suaminya. Yang menguatkan dugaan ini ialah hubungan antara mereka berdua yang makin dingin saja. Terlebih suami. Ia menjadi lebih banyak menghindar dari istri. Lebih banyak diam. Diam memendam perasaan tertekan sebab beban masalah yang menurutnya sulit dipecahkan sendiri dan tidak mudah ia ungkapkan kepada istrinya.


Benar. Tidak adanya komunikasi yang baik serta tidak adanya musyawarah antara pasutri merupakan faktor kuat yang akan menimbulkan masalah. Contoh sederhananya ialah niat baik istri diatas. Ternyata rencana baik tidak selalu baik akibatnya. Malah, bisa jadi justru meniadakan keharmonisan. Salah satu sebabnya ialah bila rencana itu hanya milik pribadi istri atau suami, bukan milik bersama.


Peranan Saling Menyerasikan
Semestinya, sebagai pasutri harus tetap mengingat bahwa dalam rumah tangga mereka bagaikan pakaian bagi pasangannya. Allah SWT berfirman:
"Mereka (istri-istri kamu) adalah pakaian bagimu. Dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka". (QS. al-Baqarah: 187)

Abdullah Ibnu Abbas r.a. menyebutkan tentang makna pakaian dalam ayat di atas seraya mengatakan: "Artinya, mereka (istri-istri kalian) adalah ketenteraman bagi kalian, dan kalian adalah ketenteraman bagi mereka".

Hakikat pakaian yang baik ialah apabila dipakai akan memberikan keserasian penampilan orang yang memakainya. Maka begitulah hendaknya pasutri berperan sebagai pemberi keserasian dan keharmonisan bagi pasangannya pada setiap langkah menjalani kehidupan berumah tangga.


Tidak akan serasi bila ada salah satu dari pasutri yang bertindak sendirian, sendiri dalam merencanakan, sendiri dalam menentukan, dan sendiri dalam menjalankannya. Bahkan sendiri dalam menikmati hasilnya. Semestinya ada kebersamaan.


Bila ada yang tidak sedap pada salah satu dari pasangan maka pasangan yang lain menjadi penyedapnya, bila ada yang miring dan tidak seimbang pada salah satu pasangan maka pasangan yang lain menegakkandan menyeimbangkannya, begitu seterusnya. Bila sudah begitu, tentu yang ada ialah ketenangan dan ketenteraman dalam kebersamaan. Sehingga masing-masing dari pasangan akan merasa percaya diri, optimis melangkah bersama-sama menjalani rumah tangganya dalam keserasian dan keharmonisan.


Teladan yang Harmonis
Ada sebuah teladan yang baik pada sepasang pasutri yang mulia, yaitu antara putri manusia paling mulia Rasulullah SAW, Fathimah r.a. dengan anak paman beliau, Ali bin Abu Tholib r.a. Bagaimana keharmonisan selalu mewarnai kehidupan mereka berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

Suatu ketika sahabat Ali r.a. berbincang-bincang serius dengan istrinya yang sangat ia cinta, Fathimah r.a. berkenaan dengan keadaan kehidupan mereka berdua yang sulit. Ali r.a. merasa tidak sanggup lagi membantu pekerjaan istrinya sebab aktivitas kesehariannya yang sampai membuat dadanya menderita. Sementara istrinya, Fathimah r.a. pun sangat membutuhkan bantuan suaminya. Beban pekerjaan yang banyak lagi berat harus ia lakukan sendirian. Mulai menggiling gandum yang bisa menjadikan telapak tangan menjadi kasar, memanggul tembikar untuk mencari air sehingga membekas pada lehernya, juga pekerjaan rumah tangga lainnya yang melapukkan bajunya. Singkatnya, sudah saatnya mereka dibantu seorang pembantu.


Kehadiran pembantu di rumah tentunya bukan kebutuhan pribadi masing-masing individu pasutri, namun merupakan kepentingan bersama. Sehingga sahabat Ali r.a. pun membicarakan hal tersebut bersama istrinya, Fathimah r.a. sebelum memutuskan untuk menghadirkan pembantu di rumahnya ataukah tidak.


Sahabat Ali r.a. mengatakan kepada istrinya: "Seandainya engkau mendatangi Rasulullah SAW, lalu engkau meminta dari beliau seorang pembantu, mengingat menggiling gandum dan pekerjaan rumah tangga telah membuatmu payah, tentu itu lebih baik".


Perhatikan, komunikasi yang baik antara Ali r.a. dengan istrinya, Fathimah r.a. benar-benar menunjukkan keharmonisan hubungan mereka berdua. Harmonis bersama-sama di saat lapang maupun di saat menderita. Harmonis mencari jalan keluar dari masalah bersama. Harmonis pula dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.


Kebersamaan itu makin nyata setelah akhirnya mereka berdualah yang mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan hajat. Meski pada akhirnya Rasulullah SAW tidak memenuhi permintaan tersebut sebab memang yang diminta tidak beliau miliki, yang mana sebagai gantinya beliau mengajarkan beberapa dzikir yang dinilai lebih baik daripada keadiran seorang pembantu bagi putri serta menantunya tersebut. Namun begitu, pasutri mulia tersebut tetap saja harmonis dalam mengamalkan petunjuk Rasulullah SAW.


Perhatikan bagaimana keharmonisan selalu mewarnai kehidupan pasutri mulia ini. Salah satu sebabnya ialah adanya komunikasi yang baik, yaitu musyawarah antara pasutri untuk merencanakan, memutuskan, menjalankan, serta menuai hasilnya bersama-sama.


Perhatikan juga bagaimana keharmonisan itu terpelihara dengan dukungan mertua yang bijaksana, yang senantiasa menghendaki sesuatu yang lebih baik buat anak serta menantunya. Bagaimana pula keharmonisan itu begitu nyata terlihat pada komunikasi yang baik dalam musyawarah yang terjadi antara mereka bertiga: Rasululullah SAW sebagai mertua, Ali r.a. sebagai menantu serta Fathimah r.a. sebagai putri beliau.


Perhatikan bagaimana mereka telah menyelesaikan masalah dengan tanpa masalah. Dengan bekal takwa dan komunikasi yang baik dalam bermusyawarah, akhirnya mereka bisa menyelesaikan masalah dengan penuh keberkahan.


Allahumma, ya Allah, berkahilah keluarga kami sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga orang-orang sholih sebelum kami. Amin.

Kamis, 26 Maret 2009

Surat Terbuka dari Istri yang Dicinta

,,,Gayung Pun Bersambut,,,

Ditulis oleh: Abu Ammar Al-ghoyami
{Al Mawaddah edisi 7 tahun ke 2}


Kuuntai kalimatku dengan goresan pena ini, untukmu, Suamiku yang kucinta, semoga engkau lebih berbahagia.

Membaca suratmu, wahai Suamiku, menjadikan aku ingat masa lalu. Aku merasakan makna kalimat-kalimatmu sebagaimana aku rasakan tatkala engkau sampaikan kalimat-kalimat itu saat kita baru memulai hidup bersama dahulu. Kini, setelah semua berlalu, dan setelah aku hampir terlupa akan kalimat-kalimat itu, engkau goreskan kalimat itu untuk kedua kalinya. Kusampaikan jazakallohu khoiron, Suamiku, atas kebaikanmu, dan atas perhatianmu kepadaku, Istrimu.

Suamiku yang kucinta...

Mungkin engkau telah begitu sering mendengar kata-kata permintaanku. Namun, aku berharap engkau takkan jemu menanggapinya. Saat ini pun, aku katakan padamu, wahai Suamiku, bantulah aku menjadi sebaik-baik perhiasan duniamu. Bantulah aku menjadi salah satu dari keempat kebahagiaan hidupmu. Bila engkau memintaku agar aku membantumu untuk memperbaiki akhlak dan pergaulanmu kepadaku, maka lebih dari itu aku begitu berharap engkaulah orang yang akan mengantarku ke taman akhlak yang mulia bersamamu.

Suamiku, jika engkau bersungguh-sungguh mengatakan kepadakau apa yang engkau goreskan itu, maka lebih dari itu, aku pun berharap engkau lebih bersungguh-sungguh membimbing, mengayomi, dan menyertakanku dalam seluruh kebaikanmu. Aku ingat nasihat emas Rasulullah S.A.W., meski itu lebih tepat disebut peringatan. Peringatan bagiku sebagai seorang istri, yang tentunya perlu engkau tahu, meski aku kira engkau pun telah mengetahuinya. Aku ingat saat beliau memperingatkan seorang wanita sebagai istri sepertiku dengan sabdanya:

"Maka perhatikanlah, wahai si istri, bagaimana kalian mempergauli suamimu. Sesungguhnya ia adalah surga atau nerakamu". (HR. Ahmad)

Begitu jelasnya makna nasihat beliau itu, dan begitu tegasnya pernyataan beliau. Dengan goresan pena kita ini, semoga engkau tahu, wahai Suamiku, bahwa aku begitu sangat berharap surga dan tidak ingin terjebak ke neraka, sementara aku punya engkau, Suamiku. Aku tahu engkau berarti surga, juga berarti neraka bagiku. Namun, aku berharap engkau mau mengerti bahwa aku tidak menginginkan neraka. Engkau pun pasti juga begitu. Maka bantulah aku, Suamiku.

Suamiku, tentunya engkau tahu, bahwa jalan menuju surga tidaklah mudah. Namun, aku berharap jalan itu akan dipermudah bagiku. Aku berharap jalan surgaku dengan mudah kutelusuri bersamaan dengan tetap adanya aku disisimu. Apakah engaku paham maksudku, Suamiku? Aku hanya ingin mengatakan satu pintaku: buatlah aku mampu melakukan apapun yang membuatmu ridho kepadaku, sebab dengan begitu Allah pun akan meridhoiku.

Sebaliknya, belokkanlah langkahku bila aku melakukan sesuatu yang membuat Allah memurkaiku sehingga engkau pun murka kepadaku. Karena kau tahu aku begitu lemah untuk bisa menunaikan seluruh hak-hakmu. Bahkan tiada mungkin aku menuanikan seluruhnya sebab begitu agung dan tak terhingga hak-hakmu. Bukankah Rasulullah S.A.W. menegaskan:

"Hak seorang suami yang harus ditunaikan oleh istri itu (nilainya begitu besar), sehingga seandainya suami terluka bernanah di badannya, lalu istrinya menjilatinya pun belum dinilai ia telah menunaikan haknya". (HR. Hakim)

Rasanya, sangatlah berat bagiku meraih surga itu. Mengingat betapa untuk menunaikan hak-hakmu saja begitu berat bebannya kurasa. Maka, aku hanya ingin engkau menunaikan sebagian saja dari hak-hakku agar aku bisa menunaikan hak-hakmu dengan seimbang. Semoga engkau mengerti ini, dan semoga engkau sudi menerimanya, Istrimu yang lemah ini. Karena aku tahu, seperti engkau juga tahu, bahwa Allah 'azza wajala tidak mewajibkan kepadamu selain sebagian hak-hakku semata. Bukan seluruh hak-hakku harus engkau tunaikan, sehingga betapa akan semakin berat kiranya aku menunaikan hak-hakmu.

Suamiku, sejujurnya aku katakan, bahwa kebahagiaan rumahku adalah tanggung jawabku. Menyambutmu dengan senyuman adalah rutinitas keseharianku. Ketenanganmu begitu membahagiakanku. Aku sangat suka kesuksesanmu meski hanya dengan sedikit bantuanku. Saat kutahu apa maumu, begitu ringan hidupku. Semuanya kulakukan karena aku merasa seandainya aku tidak melakukannya, hak-hakmu yang mana lagi kiranya yang kuasa kutunaikan. Maka pintaku, bantulah aku, Suamiku.

Suamiku, aku tahu, sebagaimana engkau pun tahu, sholat adalah sebuah kunci surga bagiku. Maka bantulah aku, Suamiku, sebagaimana aku biasa membantumu untuk bisa bersama-sama menunaikannya dengan baik dan diterima olehNya.

Aku pun tahu, sebagaimna engkau juga tahu, puasa Ramadhon adalah satu kunci surga yang lain bagiku. Maka bantulah aku, Suamiku, sebagaimana aku biasa membantumu untuk bisa bersama-sama menunaikannya dengan baik, dan semoga ibadah kita diterima olehNya.

Aku tahu, sebagaimana engkau juga tahu, bahwa ragaku ini, diriku ini, hanya halal buatmu seorang. Maka pintaku, berilah aku sesuatu yang halal yang bisa kunikmati sebagai nafkah lahir dan batinku. Bantulah aku berlaku pintar menunaikan hakmu, sebagaimana aku akan berusaha menjadikanmu pandai berbaik-baik kepadaku. Dengan begitu, aku berharap agar kita bisa berkesempatan bersama menggapai ridhoNya.

Aku juga tahu, sebagaimana engkau juga telah tahu, bahwa menaati perintah dan ajaknmu melakukan apapun yang Allah ridhoi adalah salah satu kunci surga yang lain bagiku. Maka pintaku, bila aku tidak kuasa melakukannya, janganlah engkau murkai kekuranganku, tapi perintahlah aku dengan sesuatu yang lain yang aku kuasa melakukkannya. Dan bila aku telah kuasa melakukan apa yang engkau perintahkan, dan aku telah memenuhi ajakanmu, jangan lupakan Dzat Yang Maha Kuasa di atas sana.

Bersyukurlah kepadaNya sebelum kau ucapkan kata terima kasihmu padaku. Dengan begitu, aku berharap ridhonya dan juga ridhomu. Karena aku berharap surgaNya. Semoga engkau memahami ini, Suamiku.

Seandainya ada tinta emas dalam pena kita ini, tentu aku akan tuliskan sabda Rasulullah S.A.W. ini sebagai syi'ar yang lebih berarti bagiku, dan semoga akan selalu kita baca dan kita tunaikan bersama. Beliau pernah bersabda:

"Jika seorang istri telah baik sholat lima waktunya, telah baik puasa (Ramadhonnya), telah baik dalam menjaga farjinya, telah baik ketaatannya kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: "Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana pun yang kau suka". (HR.Ahmad)

Suamiku, jujur aku katakan, bukan aku belum pernah mendapati bantuanmu. Bukan. Bukan aku belum pernah mendapati engkau penuhi pintaku. Bukan. Namun aku bersyukur kepada Allah 'azza wajala, selanjutnya kepadamu, atas semua yang telah engkau berikan sebagai kemudahan bagiku menuju ridhoNya dan ridhomu. Aku hanya berharap menjadi istrimu yang akan menyenangkanmu di dunia juga di akhiratmu. Bantulah aku, semoga Allah memberkahi kehidupan rumah tangga kita.

Dari yang mencintaimu, Istrimu.

Surat Terbuka untuk Istriku

Oleh : Al-Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

{ al-Mawaddah Edisi 05 Tahun 2 }


Buat istriku yang kucinta, semoga engkau berbahagia.

Aku tidak tahu dari mana harus memulai menuliskan beberapa rumpun kalimat buatmu, wahai istriku. Aku juga tidak tahu apakah kepolosanku dan ketulusanku ini akan mendapat sambutanmu. Tapi aku tiada pedulikan itu. Yang pasti, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku adalah suamimu.

Aku tahu bahwa sebagai suami ternyata aku sangat membutuhkanmu, aku katakan ini sejujurnya. Lalu apakah engkau juga sangat membutuhkan aku, suamimu, wahai istriku? Maafkan aku atas pertanyaan ini. Bukan aku meragukan cintamu padaku, aku hanya ingin meyakinkan diriku. Sebab, kebanyakan istri kerabat maupun sahabat-sahabatku pun sangat besar rasa butuhnya terhadap suami mereka. Oleh sebab itulah aku mencarimu untuk kujadikan istri, sebab engkau adalah seorang wanita yang sholihah, lembut, sopan santun, mulia, bertakwa, suci, menjaga diri dan penuh kasih sayang.

Istriku, aku tidak segan-segan berterus terang kepadamu, meski hanya dalam bentuk goresan tinta kita ini di atas lembaran kertas yang juga milik kita, bahwa aku sangat membutuhkanmu. Dan aku tidak menginginkan dari itu semua selain agar tumbuh rasa dalam dada kita berdua akan pentingnya saling menjaga hubungan baik di antara kita. Dan bahwa hubungan yang baik itu jauh lebih mulia daripada kita berlomba-lomba dengan maksud agar diketahui siapa di antara kita berdua yang lebih unggul. Aku berharap engkau pun telah memahaminya.

Istriku, jujur aku katakan bahwa keberadaanmu sebagai istri bagiku kurasakan sangat penting bagi diriku, akalku, hati serta jiwaku. Bahkan sangat penting bagi kehidupanku juga setelah kematianku. Maka kutuliskan suratku ini untukmu, semoga engkau benar-benar mengerti betapa tingginya kedudukanmu sebagai seorang istri, betapa beratnya wasiat agama kita yang telah dibebankan kepadaku setelah aku menikahimu, dan betapa berartinya dirimu bagiku, suamimu.

Istriku, jujur kukatakan, bagiku engkau laksana permata yang sangat berharga yang tadinya aku tak tahu dimana engkau berada dan ke mana aku harus mencari.

Sungguh dunia ini penuh dengan perhiasan, sampai aku tidak kuasa memilih perhiasan mana yang harus kuambil untuk kumiliki, sampai akhirnya Alloh memberikan petunjuk kepadaku, suamimu ini, yang telah payah dan lelah mencarimu sampai akhirnya aku menemukanmu dan menjadikanmu sebagai istri. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya . Aku tidak mengada-ada untuk sekedar membesarkan hatimu, namun begitulah Rosululloh telah menyatakannya :

إِنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ

“Dunia ini tiada lain hanyalah perhiasan, dan tak ada satu pun dari perhiasan dunia ini yang lebih utama daripada seorang istri yang sholihah.”(1)

Semoga engkau mengerti ini.

Istriku, jujur kukatakan, bagiku engkau adalah sumber kebahagiaan dan penderitaanku. Engkau adalah penghias rumah tempat tinggalku dan kendaraan mewahku, dan engkau adalah sebaik-baik tetanggaku. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya . Aku tidak mengada-ada untuk mendapat tempat di hatimu, namun begitulah Rosululloh telah mengabarkannya.

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ، وَ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ ، وَ الْجَارُ الصَّالِحُ ، وَ الْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ . وَ أَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ : الجْاَرُ السُّوْءُ ، وَ الْمَرْأَةُ السُّوْءُ ، وَ الْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ”

“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan; istri sholihah, rumah yang lapang nan luas, tetangga yang sholih dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan; tetangga yang jelek (akhlaknya), istri yang jelek (akhlaknya), rumah yang sempit dan kendaraan yang tak nyaman.” (2)

Istriku, tahukah kau bahwa aku bisa berbahagia bersamamu dan bisa sengsara lagi menderita olehmu? Bukan aku tidak percaya kepadamu bahwa engkau akan membahagiakanku, tentunya engkau bisa memilih. Sebab, aku sudah tahu engkau adalah seorang wanita yang memiliki kecerdasan, apakah engkau akan menjadi sumber kebahagiaanku atau menjadi sumber penderitaanku? Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya , aku berbahagia bersamamu di atas keberkahan hidup bersamamu yang telah dianugerahkan kepadaku, tentunya juga kepadamu. Aku merasa bahagia meski menurut orang lain aku sengsara, aku tidak menyesali banyaknya penderitaan, namun aku sangat berharap keberkahannya. Semoga engkau mengerti ini.

Istriku, jujur kukatakan bahwa tiada sebuah rumah pun yang akan kupandang indah dan kurasa nyaman meski seluas apapun rumah itu bila aku tinggal di dalamnya tanpamu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya , sungguh aku bangga padamu, istriku, karena kini aku rasakan rumahku begitu teduh, tentram dan nyaman bagiku setelah engkau yang menjadi pendampingku sejak pernikahan dulu. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, jujur kukatakan, tiada kendaraan mewah yang nyaman aku kendarai meski apapun jenisnya dan berapa rupiah pun harganya jika engkau tidak bersamaku di atas kendaraan itu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian bagi-Nya , sebab aku merasa tiada tetangga yang berdampingan denganku saat ini, baik di rumahku maupun di kendaraanku yang kurasakan kesholihannya selain dirimu. Semoga engkau mengerti ini.

Istriku, sejujurnya kukatakan, bagiku engkau adalah ukuran kebaikanku di duniaku. Semoga engkau tahu dan memahami ini. Betapa berat amanah yang telah dipikulkan di atas pundakku setelah aku menikahimu. Aku diwasiati untuk menjagamu, bahkan aku diingatkan sekali lagi dan berikutnya dan berikutnya demi kebaikanmu. Aku mengetahui hal ini bukan sekedar mengikuti perasaanku, juga bukan berdasarkan buaian mimpiku, bukan pula dari lamunan dan khayalanku. Namun aku mengerti dan paham lalu seyakin-yakinnya aku yakini dari sabda seorang manusia yang tidak didustakan kabarnya dan tidak dimaksiati perintahnya. Tahukah dirimu bahwa beliau telah menjadikan bagaimana caraku mempergaulimu dalam kebersamaan ini sebagai tanda baik buruknya akhlakku? Beliau pernah bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian ialah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya”(3)

__________________________________________________
(2) HR. Ibnu Hiban no: 1232 dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-shohihah 1/509
(3) HR. Tirmidzi no. 1082, dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 284.

Oleh karenanya, istriku, aku tidak ingin menjadi seorang yang berakhlak buruk sebab tidak bisa berbuat baik kepadamu, dan aku berharap engkau membantuku agar aku bisa memperbaiki akhlakku, (yaitu) dengan memudahkan caraku agar bisa berbuat baik kepadamu. Semoga engkau mengerti ini.
Istriku, bila engkau mendapati kebaikanku, sesungguhnya aku tidak berharap perhatianmu, aku juga tidak berharap pujianmu. Namun, aku hanya ingin semoga Alloh menjadikanmu istri yang sholihah yang berbuat baik kepadaku. Dan, bila engkau mendapatiku tidak berbuat baik kepadamu, semoga kesholihanmu bisa membuka pintu maafmu bagiku, dan semoga Alloh Yang di atas sana memaafkan kekhilafanku.

Istriku, sebenarnya masih banyak yang ingin aku goreskan dalam lembaran ini. Namun, aku cukupkan dengan mengatakan di ujung suratku ini, bahwa pada akhirnya engkau adalah pelabuhan bahteraku yang aku akan merasa tenang setelah tadinya jiwaku diliputi kecemasan dan ketakutan akan dalam dan dahsyatnya gelombang samudra kehidupan saat masih sendiri sebelum kehadiran seorang istri, dan bagiku ialah dirimu. Aku memuji Alloh dengan sebanyak-banyak pujian kepada-Nya, dan semoga Dia memberkahi hari-hari kita berdua, dalam suka maupun duka.

Dari yang mencintaimu karena Alloh dan untuk Alloh , aku, suamimu.

Kamis, 19 Maret 2009

Menjadi Santri di Usia Tua

Diambil dari Majalah Al-Mawaddah terbitan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami
Tulisan ini dikirim oleh Abu dan Ummu Hisyam al-Kadiri

“Dan adapun terhadap nikmat-nikmat dari Robb-mu maka ceritakanlah” (QS. Adh-Dhuha (93) : 11)

Sebagai seorang hamba yang amat fakir dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya kami takut tertimpa riya’, ujub atau bangga diri. Akan tetapi, sebagai hamba yang senantiasa diberi curahan nikmat oleh Alloh SWT, limpahan rezeki-Nya, petunjuk dan hidayah-Nya, pertolongan dan belas kasih-Nya; maka kami akan ceritakan salah satu nikmat tersebut.

Impian yang indah adalah sebuah kenikmatan, lebih-lebih jika impian itu menjadi kenyataan. Sekitar empat tahun silam kami bercita-cita untuk
tholabul ilmi (menuntut ilmu agama) dengan lebih intensif, yaitu dengan “mondok” di sebuah pesantren. Sebenarnya jauh sebelumnya keinginan itu sudah ada, sebab kami menyadari betapa bodohnya diri ini terhadap dienulloh (agama Alloh) yang agung ini.

Kami (ana dan juga istri) dilahirkan bukan dari lingkungan yang agamis apalagi salafi. Masa muda kami habis untuk mempelajari pelajaran yang sekarang kurang kami rasakan manfaatnya, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Namun Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, Alloh SWT berkehendak untuk memberi hidayah kepada kami. Kami mengenal salafi ketika kami sudah memiliki dua anak. Kami ikuti kajian salaf dari masjid ke masjid dan membaca buku-buku bernuansa islami. Betapa kami telah menemukan keagungan dan keindahan Islam yang sempurna ini, dan kami merasa semakin bodoh dan fakir dalam ilmu dien ini. Terbayang dalam pikiran seandainya masa muda bisa kembali, kan ku pelajari semua ilmu dien ini.

Tapi, tiada yang perlu disesali. Ilmu bukanlah hak kaum muda saja, kami terus berusaha
tholabul ilmi semampunya sambil mengurus keluarga. Impian untuk bisa intensif belajar agama seperti ketika mempelajari pelajaran umum di bangku sekolah dulu tidak bisa terhapus dalam benak ini. Tapi apa hendak dikata, anak sudah empat, dengan bekerja pagi-sore saja penghasilan pas-pasan untuk biaya pendidikan anak-anak. Bagaimana lagi jika mondok?

Do’a. Ya, do’a. Itulah senjata paling handal seorang muslim. Kami meminta kepada Dzat yang Mahakaya dan Maha Berkehendak. Setelah itu Alhamdulillah, Alloh ilhamkan kepada kami sebuah ide bagus untuk merealisasikan impian kami itu. Apa gerangan?

Syirkah (persekutuan/kerjasama antara pemodal dan pengelola). Kami mengajak dua orang semanhaj yang bercita-cita sama untuk membangun sebuah bisnis atau Syirkah, yang nantinya bila sudah dapat dipetik hasilnya akan kami gunakan untuk membiayai secara bergantian salah satu keluarga di antara kami untuk mondok sekeluarga dengan biaya sepenuhnya oleh perusahaan tersebut.

Kenapa kami memilih cara ini? Dengan syirkah kita akan lebih selamat dan hati-hati, tidak sembarangan dalam memakai uang karena bukan milik pribadi. Selain itu, memungkinkan kita untuk saling bergantian dalam mengelola usaha maupun dalam
tholabul ilmi nantinya. Di sisi lain, kita akan dapat lebih sabat dan ulet dalam menjalankan usaha terutama saat-saat krisis di awal-awal usaha. Kita tanggung bersama suka dan duka.

Tekad semakin bulat. Dengan modal yang amat kecil kami bertiga merakit bisnis. Mengingat kami masih awam dalam dunia usaha, maka kami beli buku-buku dan majalah-majalah bisnis untuk bekal awal. Selain itu, kami juga sering mendatangi pengusaha-pengusaha yang sukses untuk berkonsultasi.

Awalnya bisnis kami mengalami kebangkrutan, kemudian dengan pertolongan-Nya, Alloh ilhamkan kepada kami sebuah bisnis kecil tetapi berpotensi besar untuk berkembang dan keuntungannya cukup besar.

Bulan berganti bulan, Alhamdulillah bisnis kami berkembang pelan tapi pasti. Menginjak tahun ketiga (2007), setelah dihitung-hitung, ternyata laba bulanan perusahaan sudah cukup untuk membiayai satu keluarga untuk
tholabul ilmi walaupun dengan standar hidup sederhana. Kami bicarakan rencana kami untuk mondok dengan anak-anak, awalnya mereka ragu karena khawatir pendidikannya tidak bisa berlanjut karena Abahnya (Bapaknya) mondok, tidak bekerja. Kami yakinkan bahwa Alloh Mahakaya, mampu memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Alhamdulillah, mereka bisa menerima dan mau bersiap-siap untuk hidup lebih sederhana. Bahkan sempat menghadiahkan untuk kami buku kecil yang berjudul “Perjalanan Ulama dalam Menuntut Ilmu” karya Abu Anas Majid al-Bankani, buku yang sangat berkesan bagi kami waktu itu dan semakin membuat bulat tekad kami untuk segera memulai rihlah (menempuh jalan) untuk tholabul ilmi.

Akhirnya kami pun berangkat sekeluarga, meninggalkan kampung halaman. Rumah idaman yang telah kami bangun untuk sementara kami tinggalkan, menuju Pondok Pesantren al-Furqon, Gresik. Kami mulai dengan mengikuti dauroh (Kajian Khusus) Bahasa Arab tahun 2007, padahal anak kami yang kedua telah mengikuti dauroh yang sama pada tahun 2006 dengan kelas/tingkatan yang sama pula.

Awalnya terasa agak aneh juga. Kami duduk sebangku dengan anak-anak yang usianya di bawah 20 tahunan, seusia dengan anak kami. Tapi masya Alloh, rasa nikmat mendapat ilmu dien tidak bisa kami lukiskan, bahkan membuat kami merasa benar-benar seperti muda. Kesulitan fisik yang ada, yaitu adaptasi dengan tempat tinggal yang baru, rumah yang lebih kecil, perabot yang lebih sederhana, pola hidup yang lebih sederhana dan kondisi air yang kurang bersahabat dengan kulit anak dan istri, seperti tidak terasa karena saking besarnya kenikmatan yang Alloh berikan itu.

Subhanallah, sungguh kenikmatan menuntut ilmu agama di usia tua ini sulit kami gambarkan. Ibarat orang yang sudah lama menunggu datangnya kekasih, lalu tibalah saat perjumpaan. Hari-hari indah penuh makna kami jalani. Taman-taman bunga dari majelis ilmu kami singgahi.
Tambahnya ilmu pengetahuan dienulloh yang murni ini, kenikmatannya tiada tara, belum pernah kami merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya, tidak seperti makanan yang jika kita makan setiap hari akan bosan, tidak pula seperti baju baru yang jika kita pakai setiap hari akan lusuh. Sungguh, kami katakan, “Seseorang tidak akan dapat merasakan cita rasa lezatnya agama yang suci ini dengan tanpa mengambilnya dari sumber-sumber aslinya yang berbahasa Arab”.

Kini, Alhamdulillah anak dan istri juga “nyantri” semua,
tholabul ilmi syar’i. Dan kami ingin tetap dalam jalan tholabul ilmi hingga maut menjemput. Insya Alloh. Dan insya Alloh tahun ajaran baru mendatang salah satu rekan syirkah kami sekeluarga akan menyusul kami, karena Alhamdulillah usaha kami kini sudah cukup untuk membiayai dua keluarga. Dan semoga rekan kami yang ketiga juga bisa segera menyusul.

Segala puji bagi-Mu ya Alloh, atas segala nikmat-Mu yang tak kan mampu kami hitung. Semoga Alloh juga akan memberikan kesempatan kepada Anda, para pembaca tulisan ini, untuk dapat menuntut ilmu syar’i dengan washilah (perantara) bisnis syirkah Anda bersama rekan seiman. Amin